Laporan : Yogie Ps
KOTA BATU || indonesianewstoday.com – Aroma tragedi kembali menyelimuti Jembatan Cangar, jalur alternatif Mojokerto–Batu yang kini tak lagi sekadar lintasan kendaraan, melainkan titik rawan yang memantik keprihatinan. Kamis (23/4/2026) pagi, seorang pria ditemukan tewas di dasar jurang di bawah jembatan. Peristiwa ini bukan sekadar insiden, melainkan pengulangan yang mencolok—terjadi bahkan belum genap sebulan sejak kasus serupa mengguncang lokasi yang sama.
Jasad korban pertama kali ditemukan di bawah jembatan, dalam kondisi mengenaskan dan tanpa identitas. Sejumlah barang di lokasi memperkuat dugaan bahwa korban mengakhiri hidupnya. Sebuah tali terikat pada botol dan rangka besi jembatan, sepasang sandal yang ditinggalkan di tepi, serta sepeda motor lengkap dengan helm yang terparkir tak jauh dari lokasi—semuanya menyisakan tanda tanya sekaligus isyarat tragis.
Informasi awal mencuat dari unggahan akun Instagram @malangraya_info yang menyebut korban diduga melompat dari jembatan tersebut. “Belum genap satu bulan kejadian, seorang pria diduga loncat dari Jembatan Cangar,” tulis akun tersebut, mempertegas pola yang mengkhawatirkan.
Jembatan Cangar kini tak hanya viral, tapi juga memunculkan fenomena sosial yang memantik perdebatan. Usai kejadian sebelumnya pada 31 Maret 2026, lokasi ini ramai didatangi warga. Bunga, kopi, hingga makanan ditinggalkan di atas jembatan—sebuah gestur empati yang di satu sisi manusiawi, namun di sisi lain berpotensi membuka ruang bagi efek penularan psikologis yang berbahaya.
Pihak pengelola kawasan konservasi Taman Hutan Raya Raden Soerjo tak tinggal diam. Kepala UPT Tahura, Agustiningtyas, menegaskan setiap benda yang ditinggalkan warga langsung dibersihkan. Langkah ini bukan tanpa alasan—lokasi tersebut bukan ruang publik untuk berkumpul, melainkan jalur vital yang harus steril dari aktivitas non-lalu lintas.

“Jembatan itu bukan tempat nongkrong atau selfie. Itu fasilitas jalan provinsi yang harus digunakan sebagaimana mestinya,” tegasnya.
Nada serupa datang dari Dinas Perhubungan Jawa Timur. Larangan berhenti, parkir, apalagi berfoto di atas jembatan bukan aturan baru, melainkan regulasi lama yang kini terasa makin mendesak untuk ditegakkan. Kondisi jalan yang sempit dan lalu lintas dua arah menjadikan setiap kendaraan yang berhenti sebagai potensi kecelakaan yang nyata.
Fenomena di Jembatan Cangar bukan lagi sekadar peristiwa individual, melainkan alarm keras bagi semua pihak. Ketika satu lokasi berulang kali menjadi panggung tragedi, pertanyaannya bukan hanya “apa yang terjadi”, tetapi “mengapa terus terjadi”—dan sejauh mana keseriusan semua pihak untuk memutus rantai ini sebelum korban berikutnya kembali jatuh.
Redaksi : indonesianewstoday.com









