Home / NEWS

Minggu, 26 April 2026 - 02:08 WIB

Di Bawah Langit Banyumanik, Wayang Menjadi Doa: Merti Desa Padangsari Menyentuh Hati Warga

Laporan : Joe

Editor : Yogie Ps

SEMARANG || indonesianewstoday.com – Suasana haru dan khidmat menyelimuti halaman Balai RW 3 Kelurahan Padangsari, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang Selatan, Sabtu malam (25/4/2026). Di bawah temaram lampu dan langit malam yang tenang, masyarakat berkumpul di Jalan Grafika Raya No. 2 untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit dengan lakon Aji Narantaka—sebuah kisah yang sarat makna tentang perjuangan, pengorbanan, dan kebijaksanaan hidup.

Pagelaran ini bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan yang menghidupkan kembali nilai-nilai luhur budaya Jawa. Kepiawaian Dalang Ki Catur Nugroho asal Boyolali mampu menghipnotis penonton dari berbagai kalangan. Setiap suluk yang dilantunkan, setiap gerak wayang yang dimainkan, seolah menjadi jembatan antara manusia dengan nilai-nilai kehidupan yang semakin hari kian tergerus zaman.

Suasana semakin hangat dengan kehadiran Bagong Mantri yang mengundang tawa melalui guyonan khasnya. Di tengah gelak tawa itu, terselip pesan-pesan sosial yang mengena—mengajak masyarakat untuk tetap guyub, rukun, dan saling menjaga di tengah dinamika kehidupan modern.

Acara ini turut dihadiri oleh Lurah Padangsari, Sri Agustina Wulandari, bersama jajaran Muspika setempat. Kehadiran para pemangku wilayah ini menjadi simbol kuatnya dukungan terhadap pelestarian budaya sekaligus penguatan nilai kebersamaan di tengah masyarakat.

Lebih dari sekadar hiburan, pagelaran wayang kulit ini merupakan bagian dari tradisi Merti Desa—sebuah ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan berkah. Tradisi yang digelar setiap tahun ini menjadi momentum sakral bagi warga untuk merefleksikan perjalanan hidup sekaligus mempererat tali persaudaraan.

Tiga kelurahan bersatu dalam gelaran penuh makna ini. Kelurahan Padangsari sebagai tuan rumah, didukung oleh Kelurahan Banyumanik dan Kelurahan Gedawang. Kebersamaan ini menjadi bukti bahwa di tengah perbedaan, semangat gotong royong dan kekeluargaan tetap hidup dan tumbuh.

READ  Bayang Maut di Cangar: Tragedi Berulang, Jembatan Berubah Jadi Magnet Kematian

Di penghujung malam, ketika layar kelir perlahan meredup dan gamelan mulai senyap, tersisa rasa hangat di hati setiap yang hadir. Wayang bukan hanya cerita—ia adalah cermin kehidupan, pengingat akan jati diri, dan doa yang dilangitkan bersama dalam diam.

Redaksi : indonesianewstoday.com

Share :

Baca Juga

NEWS

Polres Boyolali Gelar Patroli Skala Besar, Antisipasi Balap Liar dan Gangguan Kamtibmas

NEWS

Kapolres Boyolali Hadir di Tengah Jamaah, Pengajian Ahad Pon Mojosongo Berlangsung Aman dan Kondusif

NEWS

Inggris Tegaskan Dukungan pada Inisiatif Otonomi Maroko sebagai Basis Paling Kredibel bagi Perdamaian di Sahara

NEWS

Negosiasi Berujung Brutal: Pria 53 Tahun Dikeroyok di Kedai Kopi Pekanbaru, Polisi Dibayangi Ujian Tegakkan Hukum

Indonesiatoday

Keberadaan Debt Collector “Mata Elang” di Salatiga dan Kabupaten Semarang Dinilai Meresahkan, ELBEHA Barometer Minta Aparat Bertindak

Indonesiatoday

Kapolres Boyolali Ajak Ulama Perkuat Sinergi Kamtibmas dalam Musyawarah Kerja dan Halaqah MUI 2026 di Banyudono

NEWS

Kapolres Boyolali Laporkan Peningkatan Kapasitas Masyarakat Sipil dalam Penyelesaian Konflik Sosial

NEWS

Kapolres Boyolali Apresiasi GP Ansor, Ajak Jaga Kamtibmas di Pembukaan Kemah Bhakti ke-4 dan Konfercab ke-13