Loading...

Wamena disebut mulai pulih, sejumlah pengungsi mengatakan ‘enggan kembali’


Hak atas foto
Muhammad Abdul Syah/Anadolu Agency via Getty Image

Image caption

Seorang polisi wanita bermain dengan anak pengungsi Wamena di pengungsian di kota Merauke, Papua (03/10).

Dua pekan setelah kerusuhan, Wamena disebut berangsur pulih. Namun sebagian warga yang mengungsi mengatakan enggan kembali ke kota di Kabupaten Jayawijaya, Papua itu.

“Sudah trauma, tidak mau (kembali),” kata Agnesia Patiung (16) kepada wartawan Jufri Tonapa yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, saat ditanya apakah ia berencana kembali ke Wamena pascainsiden berdarah pada 23 September lalu.

Agnes adalah salah satu warga pendatang yang baru tiba di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan pada Selasa (08/10) siang dalam gelombang pengungsi asal Wamena.

Hingga Senin (07/10), sudah 286 pengungsi asal Wamena tiba di sana.

Agnes dan keluarga sempat mengungsi selama beberapa hari di markas Komando Distrik Militer 1702 Jayawijaya, sebelum pindah ke Jayapura, dan akhirnya memutuskan pulang kampung ke Toraja.

“Kaca-kaca semua dilempar, kaca-kaca semua jatuh, terus kita sembunyi di bawah kolong meja,” tuturnya mengingat pagi yang berubah kelam di sekolahnya di SMA Negeri 1 Wamena.

Hak atas foto
Jufri Tonapa

Image caption

Siswi SMA bernama Agnesia Patiung, salah satu pengungsi Wamena, memutuskan pulang kampung ke Toraja Utara karena merasa trauma dengan kerusuhan 23 September 2019.

Pengungsi lain, Enny Vriend, mengambil langkah serupa.

Aparatur Sipil Negara (ASN) itu membawa serta ketiga anaknya keluar dari Papua untuk menghindari kemungkinan terjadinya kembali kerusuhan.

“Saya cuma amankan anak-anak sementara saja, karena mereka trauma pada saat kerusuhan,” ungkap Enny.

“(Anak) yang sudah besar itu sudah mengerti, dia bilang ‘Ma, saya takut’.”

Ia belum tahu kapan akan kembali ke Wamena, tapi yang pasti, anak-anaknya tidak akan ia bawa kembali ke sana dalam waktu dekat.

Enny berencana menitipkan mereka kepada orang tuanya di Toraja dan menyekolahkan mereka di sana.

“Mungkin sampai tahun depan,” ujar Enny.

Sementara bagi Yan Arung, pengungsi paruh baya yang juga memilih kembali ke Toraja, Wamena sudah terasa seperti rumahnya.

“Mau dibilang pendatang macam saya tapi sudah 34 tahun di Papua,” tuturnya.

“Harapan kami ke depan pemerintah daerah memfasilitasi bagaimana supaya dia (kami) bisa bersama kembali, akur kembali semuanya seperti dulu.”

Hak atas foto
Jufri Tonapa

Image caption

Salah seorang pengungsi Wamena yang baru tiba di Posko Kemanusiaan Peduli Papua di Toraja Utara, Selawesi Selatan pada Selasa (08/10).

Hingga 6 Oktober 2019, 1.726 orang masih mengungsi di sejumlah titik di Wamena. Mereka adalah warga yang tempat tinggalnya rusak akibat kerusuhan yang terjadi.

Sementara itu, lebih dari 15.000 orang lainnya keluar dari Wamena dengan menggunakan pesawat Hercules milik TNI AU dan sejumlah penerbangan komersial.

Masa tanggap darurat sudah lewat

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Jayawijaya, Papua, Daulat Siregar, mengatakan bahwa masa 14 hari tanggap darurat sudah berakhir sejak Senin (07/10).

Menurutnya, berbagai aktivitas warga sudah mulai kembali normal.

“Fasilitas-fasilitas umum hingga saat ini berjalan seperti biasa, kami baru mencoba untuk sekolah-sekolah sudah mulai buka kemarin, layanan kesehatan berjalan seperti biasa, walaupun masih banyak petugas-petugas yang jauh dari kota itu belum ada di tempat,” jelas Daulat kepada BBC News Indonesia, melalui sambungan telepon, Selasa (08/10).

Hak atas foto
ANTARA FOTO/Gusti Tanati/ama

Image caption

Suasana pengungsi Wamena di posko pengungsian Tongkonan, Kotaraja, Jayapura, Papua, Senin (7/10).

Warga yang sebelumnya mengungsi di berbagai tempat di Wamena pun dikatakan sudah kembali ke tempat tinggal masing-masing, kecuali mereka yang rumahnya rusak atau terbakar – mereka akan dibuatkan rumah-rumah darurat sembari menunggu perbaikan tempat tinggal mereka.

“Warga yang tidak ada terdampak, terutama rumahnya masih utuh, itu sudah kembali semuanya,” ujarnya.

Kondisi yang mulai tampak normal pun diamini Doni – bukan nama sebenarnya, warga asli Papua yang tinggal di pinggiran kota Wamena.

“Sebenarnya sudah normal, aktivitas sudah mulai jalan mulai hari Senin kemarin,” kata Doni.

“Aktivitas perekonomian juga sudah jalan, cuma warga di pinggiran kota ini sepertinya belum mau masuk ke kota. Warga aslinya seperti tidak kelihatan, tidak seperti biasanya. Ada, tapi hanya beberapa saja, satu dua.”

Hak atas foto
ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/ama

Image caption

Dua orang personel Brimob melakukan patroli di Wamena, Papua, Selasa (8/10).

Meski menurutnya hubungan warga setempat dengan pendatang sudah mulai sejuk, warga lokal memilih menghindari pusat kota yang masih dijaga ketat aparat.

“Karena mereka (aparat) berjaga-jaga di hampir semua sudut.”

Doni berpendapat, masyarakat asli Papua merasa tidak nyaman dengan kehadiran aparat keamanan yang masif seperti saat ini.

“Aparat ini kan kalau terjadi apa-apa di Wamena atau di Papua ini kan selalu melindungi warga yang bukan warga Papua, warga pendatang yang dilindungi. Jadi setiap kejadian begini, warga asli Papua tetap merasa was-was terhadap aparat keamanan,” bebernya.

Kekhawatiran Doni ditanggapi pihak aparat sebagai anggapan belaka.

Juru bicara Kodam XVII/Cenderawasih Letkol CPL Eko Daryanto mengatakan bahwa tidak ada masalah apa-apa di lapangan.

“Itu kan katanya,” ujar Eko saat dihubungi BBC News Indonesia melalui telepon.

“Silakan untuk pendatang melaksanakan aktivitasnya, demikian juga yang lokal segera berbaur, melaksanakan masing-masing kegiatan.”

‘Tidak perlu kembali ke daerah masing-masing’

Selama sebulan ke depan, kota Wamena, disebut Kepala Dinas Sosial Kabupaten Jayawijaya Daulat Siregar, akan menjalani masa pemulihan.

Salah satu program yang dilakukan adalah pemulihan trauma (trauma healing) bagi penduduk yang merasa terguncang akibat kerusuhan yang menewaskan 30 orang itu.

“Tidak hanya masyarakat pendatang, tapi juga semua masyarakat umum yang bergabung ke sana tetap dilayani trauma healingnya,” ujar Daulat.

Hak atas foto
ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/ama

Image caption

Dua orang Ibu Bhayangkari menyuapi makan pada bocah pengungsi di Posko pengungsian di Makodim 1702/Jayawijaya, Wamena, Papua, Selasa (8/10).

Meski demikian, ia mengakui bahwa program tersebut masih terpusat di kota karena keterbatasan SDM.

Padahal, warga asli Papua – yang juga mengalami trauma – lebih banyak tinggal di luar kota Wamena.

“Masyarakat asli Jayawijaya itu kan kebanyakan lari ke pinggiran, atau bahkan ke kecamatan-kecamatan atau distrik-distrik, jangkauan ke distrik sampai saat ini kan masih terbatas, jadi belum ada yang turun ke tingkat distrik atau kecamatan,” imbuhnya.

Pada Selasa (08/10), Menteri Koordinator Polhukam Wiranto, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kapolri Jenderal pol Tito Karnavian, Menteri Sosial Agus Gumiwang, Menteri Kesehatan Nila Moeloek dan Menteri BUMN Rini Soemarno mengunjungi Wamena untuk meninjau lokasi kerusuhan dan pengungsian.

Dalam sambutannya di hadapan para pengungsi dari warga pendatang, Wiranto meminta masyarakat setempat untuk kembali merajut persaudaraan dan perdamaian dengan semua pihak, termasuk warga setempat.

Hak atas foto
ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/ama

Image caption

Menko Polhukam Wiranto menyampaikan arahan kepada pengungsi di Posko pengungsian di Makodim 1702/Jayawijaya, Wamena, Papua, Selasa (8/10).

Terkait para pendatang yang memilih hengkang dari Papua, ia meminta mereka untuk bertahan di Wamena.

“Tidak perlu kembali ke daerah masing-masing, tetapi tetap tinggal di sini, membangun kehidupan seperti biasa, seperti semula,” tutur Wiranto.

“Aparat kepolisian-TNI menjamin keamanan supaya tidak ada lagi penyerangan, tidak ada lagi yang brutal, tidak ada yang anarkis, tidak ada yang menodai kebersamaan kita sebagai satu bangsa,” kata Wiranto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *