Loading...

Virus corona: Perburuan mencari orang pertama yang memicu wabah Covid-19


Hak atas foto
Reuters

Image caption

Seorang perawat mengambil tes swab dari seorang penumpang pesawat di Bandara Minsk, Belarus, pada 19 Maret 2020.

Seiring meningkatnya kasus virus corona di seluruh dunia, perburuan terus dilakukan untuk mendapatkan “pasien nol”. Namun, apakah menemukan satu orang yang menjadi awal penyebab wabah akan berguna, atau justru berbahaya?

Otoritas dan pakar di China berselisih tentang asal mula wabah virus corona yang sedang berlangsung. Lebih khusus lagi, tentang siapa “pasien nol” wabah ini.

Disebut juga sebagai kasus indeks, pasien nol adalah istilah yang digunakan untuk merujuk manusia pertama yang terinfeksi oleh virus atau penyakit bakteri dalam suatu wabah.

Kemajuan dalam analisis genetika saat ini memungkinkan untuk melacak kembali garis turunan virus melalui mereka yang telah terinfeksi.

Dikombinasikan dengan studi epidemiologi, para ilmuwan dapat menunjukkan dengan tepat individu-individu yang mungkin merupakan orang pertama yang mulai menyebarkan penyakit ini dan memicu wabah tersebut.

Mengidentifikasi siapa orang-orang ini dapat membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan penting tentang bagaimana, kapan dan mengapa wabah terjadi.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Para ilmuwan sepakat bahwa episentrum wabah virus corona adalah pasar hewan dan ikan laut di Wuhan, China.

Informasi ini kemudian dapat membantu mencegah lebih banyak orang terinfeksi sekarang atau di masa depan.

Apakah kita tahu siapa pasien nol dalam wabah virus corona Covid-19 yang dimulai di China?

Jawaban singkatnya – tidak.

Pihak berwenang China awalnya melaporkan bahwa kasus virus corona pertama terjadi pada tanggal 31 Desember dan banyak dari kasus-kasus awal infeksi yang menyerupai pneumonia ini terhubung dengan pasar makanan laut dan hewan di Wuhan, provinsi Hubei.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Polisi dengan mengenakan masker berdiri di luar pasar hewan di Wuhan, yang diyakini sebagai sumber wabah virus corona.

Menurut statistik yang dikumpulkan oleh Johns Hopkins University, wilayah ini adalah pusat penyebaran wabah, dengan hampir 82% dari 75.000 lebih kasus yang terdata sejauh ini di China dan seluruh dunia berasal dari sini.

Namun, sebuah penelitian oleh para peneliti China yang diterbitkan dalam jurnal medis Lancet, mengklaim orang pertama dengan Covid-19 didiagnosis pada 1 Desember 2019 (jauh lebih awal) dan orang itu “tidak memiliki kontak” dengan pasar hewan dan ikan laut Huanan.

Wu Wenjuan, seorang dokter senior di Rumah Sakit Jinyintan Wuhan dan salah satu penulis jurnal tersebut, mengatakan kepada BBC Chinese Service bahwa pasiennya adalah seorang pria lanjut usia yang menderita penyakit Alzheimer.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Para saintis mengatakan penting untuk mengetahui asal usul wabah virus corona.

“Tempat tinggalnya (si pasien) berjarak empat atau lima kali naik bus dari pasar ikan laut, dan karena dia sakit, dia hanya tinggal di rumah” kata Wu Wenjuan.

Dia juga mengatakan bahwa tiga orang lainnya mengalami gejala pada hari-hari berikutnya – dua di antaranya juga tidak terpapar dengan kawasan Huanan.

Namun, para peneliti juga menemukan bahwa 27 orang dari sampel 41 pasien yang dirawat di rumah sakit pada tahap awal wabah “telah berhubungan dengan kawasan pasar”.

Hipotesis bahwa wabah dimulai di pasar dan bisa ditularkan dari hewan hidup ke inang manusia sebelum menyebar dari manusia ke manusia masih dianggap sebagai kemungkinan paling besar, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Jadi bisakah satu orang benar-benar memicu wabah besar?

Wabah Ebola 2014 hingga 2016 di Afrika Barat adalah yang terbesar sejak virus ini pertama kali ditemukan pada tahun 1976. Wabah ini menewaskan lebih dari 11.000 orang dan menginfeksi lebih dari 28.000, menurut WHO.

Wabah ini berlangsung lebih dari dua tahun dan ditemukan di 10 negara, kebanyakan di Afrika tetapi ada juga kasus yang dilaporkan di AS, Spanyol, Inggris dan Italia.

Para ilmuwan menyimpulkan gelombang wabah Ebola baru ini dimulai oleh hanya satu orang: seorang bocah lelaki berusia dua tahun dari Guinea. Bocah itu mungkin telah terinfeksi karena bermain di pohon berlubang yang menjadi rumah sekoloni kelelawar.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Para ilmuwan menyimpulkan wabah Ebola dimulai oleh hanya satu orang: seorang bocah lelaki berusia dua tahun dari Guinea.

Mereka membuat kesimpulan itu dengan melakukan ekspedisi ke desa anak itu—Meliandou—mengambil sampel, dan mengobrol dengan penduduk setempat untuk mengetahui lebih lanjut tentang sumber wabah Ebola sebelum menerbitkan temuan mereka.

Tapi mungkin “pasien nol” yang paling terkenal adalah Mary Mallon, yang mendapat julukan Typhoid Mary karena menyebabkan wabah demam tipus di New York pada tahun 1906.

Berasal dari Irlandia, Mallon beremigrasi ke AS, di mana ia mulai bekerja untuk keluarga-keluarga kaya sebagai juru masak.

Setelah serangkaian kasus tipus di antara keluarga kaya di New York, dokter melacak asal muasal wabah ke Mallon. Di mana pun dia bekerja, anggota rumah tangga mulai terserang demam tifoid.

Dokter menyebutnya sebagai Pembawa yang sehat. Artinya, seseorang yang terinfeksi oleh suatu penyakit tetapi menunjukkan sedikit atau tidak ada gejala penyakit sama sekali, yang berarti mereka justru biasanya menginfeksi banyak orang.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Mary Mallon mendapat julukan Typhoid Mary karena menyebabkan wabah demam tipus di New York pada tahun 1906.

Sekarang ada bukti yang semakin kuat yang menunjukkan bahwa beberapa orang lebih “efisien” daripada yang lain dalam menyebarkan virus dan Mallon adalah salah satu kasus paling awal yang tercatat dari seseorang yang memiliki “kemampuan” ini yang dikenal sebagai “penyebar-super”.

Pada waktu itu, penyakit tersebut menyerang beberapa ribu penduduk New York setiap tahun dan memiliki tingkat kematian 10%.

Tetapi istilah “pasien nol” sendiri dipenuhi dengan makna dan stigma. Banyak ahli kesehatan menolak mengidentifikasi kasus wabah yang pertama tercatat, karena takut hal itu dapat menyebabkan disinformasi tentang penyakit atau bahkan viktimisasi orang tersebut.

Contoh terkenal adalah seorang pria yang secara keliru diidentifikasi sebagai “pasien nol” dari epidemi AIDS.

Gaetan Dugas, seorang pramugara homoseksual Kanada, adalah salah satu pasien yang paling menderita dalam sejarah, disalahkan karena dianggap menyebarkan HIV ke AS pada 1980-an.

Tetapi tiga dekade kemudian, para ilmuwan mengungkapkan bahwa dia tidak mungkin menjadi kasus pertama – karena sebuah studi tahun 2016 menunjukkan virus telah pindah dari Karibia ke Amerika pada awal tahun 1970-an.

Anehnya, justru selama epidemi HIV-lah istilah pasien nol diciptakan secara tidak sengaja.

Ketika sedang menyelidiki penyebaran penyakit AIDS di Los Angeles dan San Francisco pada awal 80-an, para peneliti dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menggunakan huruf “O” untuk merujuk kasus seseorang yang berasal “dari luar (outside) negara bagian California”.

Peneliti lain salah menafsirkan huruf itu sebagai angka 0 – dan dari situ lahirlah konsep pasien nol.

Anda bisa menyimak versi bahasa Inggris dari artikel ini, Who is ‘patient zero’ in the coronavirus outbreak? di laman BBC Future.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *