Loading...

Sampah plastik terbanyak di Jakarta berbentuk styrofoam, Pergub DKI soal plastik sekali pakai ‘tak akan signifikan’


Hak atas foto
Getty Images/Corbis

Image caption

Larangan penggunaan plastik yang diterbitkan Gubernur DKI Jakarta tidak mencakup styrofoam.

Larangan penggunaan plastik sekali pakai di kawasan DKI Jakarta diteken akhir Desember 2019 dan akan berlaku efektif 1 Juli mendatang.

Namun peneliti menilai peraturan gubernur itu tidak bakal signifikan mengurangi sampah plastik yang mengalir ke Teluk Jakarta.

Alasannya, sampah plastik terbanyak di perairan Jakarta merupakan styrofoam, jenis plastik yang tak dilarang dalam ketentuan baru tersebut.

Mayoritas dari 59% sampah plastik yang mengalir ke Teluk Jakarta adalah styrofoam berbentuk wadah makanan dan pelindung bagian dalam kardus alat elektronik.

Temuan itu muncul dalam riset dua ilmuwan Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Muhammad Reza Cordova dan Intan Suci Nurhati, yang dipublikasikan 10 Desember 2019.

Reza berkata, kajian itu semestinya menjadi pertimbangan pembentukan Pergub DKI 142/2019 yang diteken Gubernur Anies Baswedan 27 Desember lalu.

Sayangnya, larangan itu hanya berlaku untuk kantong belanja berbahan plastik sekali pakai.

“Perlu regulasi yang lebih baik agar sampah plastik jenis selain kantong plastik, bisa dilarang,” kata Reza via telepon, Senin (20/01).

“Sampah styrofoam banyak karena bisa pecah menjadi beberapa keping saat terbawa arus. Sebelum menjadi sampah, harusnya styrofoam dilarang,” ujarnya.

Hak atas foto
OLIVIER MORIN/AFP

Image caption

Penelitian LIPI yang diterbitkan Desemberi 2019 menyebut 59% sampah di sembilan sungai di sekitar Jakarta berbentuk plastik.

Kajian yang dilakukan Reza dan Intan dilakukan di sembilan muara suangai di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi, selama Juni 2015 hingga Juni 2016.

Mereka mengestimasi, setiap hari sampah plastik di perairan itu mencapai sekitar 8,32 ton.

Reza menuturkan, larangan yang dibentuk Pemprov DKI semestinya mencakup beragam jenis plastik.

Apalagi, kata dia, sampah plastik yang mengalir di sungai-sungai sekitar Jakarta terdiri dari 19 jenis, dari kantong plastik, styrofoam, sedotan, hingga saset.

“Regulasi ini tidak akan signifikan karena sampah yang kami temukan bukan hanya plastik sekali pakai. Harus ada plastik jenis lain yang dilarang, baru hasilnya bisa signifikan,” tutur Reza.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Berbagai pemerintahan di seluruh penjuru dunia mulai menerapkan larangan penggunaan plastik.

Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengakui ragam sampah plastik di sekitar ibu kota.

Meski begitu, larangan kantong plastik sekali pakai diklaim penting diatur lebih dulu demi mengubah pandangan publik terhadap dampak buruk plastik.

“Pada tahap pertama ini yang kami larang plastik sekali pakai karena itu diproduksi masif dan mempengaruhi gaya hidup masyarakat,” kata Juru Bicara Dinas Lingkungan Hidup DKI, Yogi Ikhwan.

“Sekarang belanja sedikit pasti pakai kresek. Kebiasaan itu dulu yang ingin kami ubah,” tuturnya.

Yogi berkata, larangan penggunaan barang berbahan plastik bakal diatur bertahap. Namun ia menyebut tidak ada tenggat waktu untuk memasukkan jenis plastik lain ke dalam peraturan gubernur.

“Nanti akan ada regulasi terkait yang lain, tapi kampanye awal tujuannya mengubah gaya hidup. Sasaran paling mudah dan yang penggantinya mudah dicari, ya plastik sekali pakai,” kata Yogi.

Hak atas foto
AGUS EMBUN/BBC INDONESIA

Image caption

Sampah plastik di perairan terbuka berpotensi berdampak buruk kepada satwa, seperti yang terjadi di Padang, 11 Januari lalu.

Pergub DKI 142/2019 mendefinisikan kantong kemasan plastik sekali pakai sebagai kantong transparan yang digunakan untuk membungkus dan menjaga sanitasi bahan pangan yang belum terselubung kemasan apapun.

Kantong plastik yang dilarang adalah yang terbuat atau mengandung bahan dasar plastik, polimer thermoplastic, lateks, atau bahan sejenis lainnya yang merupakan polimer turunan hidrokarbon.

Sementara mayoritas styrofoam yang mendominasi sampah plastik di perairan Jakarta adalah wadah makanan dengan nama ilmiah expanded polystyrene.

Meski tak signifikan, Reza menyebut larangan kantong plastik sekali pakai sebagai upaya positif mengurangi dampak buruk plastik terhadap lingkungan, terutama perairan Jakarta.

“Semakin banyak perda yang mengatur hal itu, semakin banyak sampah perusak lingkungan yang dilarang,” ujarnya.

“Hanya saja, setiap wilayah punya karakter sampah plastik yang berbeda. Misalnya di wilayah Indonesia timur, paling banyak plastik es batu, jadi itu yang harus dilarang lebih dulu di sana.”

“Jakarta baru melarang kantong plastik, tapi diharapkan akan ada jenis lain lagi yang akan dilarang,” kata Reza.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Sampah styrofoam yang banyak ditemukan peneliti LIPI di Teluk Jakarta berbentuk wadah makanan.

Namun apa kata para pengguna styrofoam di Jakarta?

Risky, pedagang kaki lima yang menjajakan nasi goreng di Taman Menteng, menyebut wadah styrofoam lebih pantas dilihat ketimbang kertas nasi dan wadah lainnya.

Ia berkata, styrofoam juga memudahkan ojek daring yang membeli dagangannya, meski harganya lebih mahal daripada kertas nasi.

“Nasi goreng saya kan sudah dimasukkan ke Grab dan Gojek, diantar ke mana-mana, termasuk ke hotel. Kalau pakai kertas nasi sepertinya tidak pantas.”

“Saya akan pakai styrofoam dulu, kalau dilarang sama sekali, bagaimana caranya saya nanti akan ganti,” ucapnya.

Hak atas foto
AFP

Image caption

Beberapa penelitian ilmuwan Indonesia menemukan bahan baku pembuatan styrofoam yang tidak merusak lingkungan.

Sementara itu, Sandy, staf pembelian barang elektronik di sebuah perusahaan di Jakarta Pusat, tak risau jika styrofoam kardus akhirnya juga dilarang.

Styrofoam disebutnya selama ini menjadi medium pencegah kerusakan barang elektronik selama proses pengiriman dari pabrik ke tangan konsumen.

“Selama tidak membuat barang yang saya beli bermasalah, saya terima saja.”

“Sebagai konsumen yang penting barang sampai ke tangan saya dengan selamat, bukan memikirkan apa yang ada di dalam kardus,” kata Sandy.

“Karena selama ini sudah terbiasa dengan styrofoam, saya berpikir itu aman. Kalau diganti dengan yang ramah lingkungan dan barang di dalam kardus bisa sampai dengan aman, tidak masalah.”

Reza Cordova dari LIPI berkata, sejumlah penelitian di Indonesia telah menemukan potensi pengganti styrofoam dari bahan baku yang ramah lingkungan atau biofoam.

Bahan alami pembuat biofoam yang pernah ditemukan dan dikaji LIPI itu antara lain ampas tahu serta gabungan pati dan selulosa.

Hingga awal 2020, sejumlah pemerintahan provinsi, kabupaten, dan kota telah melarang penggunaan barang berbahan plastik, tapi baru Surabaya, Semarang, Banjarmasin, dan Bandung yang mengharamkan styrofoam.

Sebagian besar regulasi tentang plastik di beberapa daerah berfokus pada larangan kantong plastik sekali pakai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *