Penembakan di Selandia Baru: Apakah pelaku bekerja sendirian?


Hak atas foto
Reuters

Image caption

Brenton Tarrant, 28, dalam persidangan di Pengadilan Christchurch pada Sabtu (16/3) didakwa melakukan pembunuhan.

Polisi mengatakan pelaku serangan teror yang terjadi di dua masjid di Christchurh, Selandia Baru, Jumat (15/3), bekerja sendirian.

Sang pelaku, pria Australia bernama Brenton Tarrant, 28 tahun, yang mendeskripsikan dirinya sebagai pendukung supremasi kulit putih, menyiarkan aksinya secara langsung di Facebook.

Adapun tiga orang lainnya yang ditangkap usai penembakan terjadi, diyakini tidak terlibat dalam aksi yang dilakukan Tarrant, ujar Komisaris Polisi Mike Bush.

Namun dia menambahkan hal tersebut belum bisa dipastikan.

Sebanyak 50 orang tewas dalam aksi penembakan tersebut, dan setidaknya 50 orang terluka. Sementara dua orang dalam kondisi kritis.

Bush mengatakan otoritas setempat berusaha melakukan identifikasi korban penembakan di Masjid Al Noor dan Linwood secepat mungkin.

Dia menambahkan upaya identifikasi terhadap korban merupakan proses yang sensitif dan pihaknya memahami “kebutuhan agama dan budaya”.

Siapa saja yang terlibat?

Pada Sabtu, tersangka utama penembakan tersebut hadir di pengadilan mengenakan kaus putih dengan tangan terborgol. Dia tersenyum ke arah kamera.

Dia telah didakwa melakukan pembunuhan dan dakwaan lainnya diperkirakan akan ditimpakan kepadanya.

Dalam jumpa pers, Bush mengatakan Tarrant merupakan satu-satunya pelaku yang didakwa melakukan penembakan tersebut.

“Dia kami tangkap karena dia diyakini sebagai ancaman langsung, staf kami bertindak cepat… mereka menempatkan dirinya dalam bahaya untuk menghentikan serangan lebih lanjut – dan saya yakin mereka berhasil mencegah serangan lebih lanjut,” paparnya.

Dia menambahkan polisi meyakini dua orang yang ditangkap di dekat lokasi penembakan tidak terlibat. Seorang perempuan dibebaskan tanpa dakwaan dan seorang pria didakwa dengan pelanggaran yang melibatkan senjata api.

Media playback tidak ada di perangkat Anda

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengatakan akan mengubah undang-undang kepemilikan senjata di negaranya.

Selain itu, seorang remaja berusia 18 tahun juga ditangkap, namun keterlibatannya bersifat “tidak langsung” dan dia akan disidang pada Senin (18/3) besok.

Meskipun demikian, Bush menambahkan, “Saya tidak akan mengatakan hal-hal yang konklusif sampai kita benar-benar yakin berapa banyak orang yang terlibat.”

Semua orang yang ditangkap tidak memiliki sejarah perbuatan kriminal sebelumnya, kata polisi.

Tarrant telah dikembalikan ke tahanan tanpa pembelaan dan dijadwalkan kembali hadir di pengadilan pada tanggal 5 April mendatang.

Hakim ketua memutuskan bahwa wajah tersangka harus dikaburkan dalam foto dan video untuk mempertahankan haknya atas persidangan yang adil.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengatakan Tarrant memiliki lisensi senjata api dan memiliki lima pucuk senapan.

Kisah kepahlawanan para korban

Kisah-kisah kepahlawanan penuh keberanian bermunculan usai serangan teror di dua masjid di Christchurch di Selandia Baru.

Dua dari enam orang berkebangsaan Pakistan yang tewas adalah Naeem Rashid, 50 tahun, dan putranya, Talha, 21 tahun. Mereka telah tinggal di Selandia Baru sejak 2010.

Media playback tidak ada di perangkat Anda

Saudara korban: ‘Duka kami tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata’

Rashid disebut sebagai pahlawan di media sosial karena terlihat berusaha menghentikan sang penembak di Masjid Al Noor, sebelum tewas.

Saudaranya, Khursheed Alam yang tinggal di kota Abbottabad di utara Pakistan, mengatakan pada wartawan BBC Secunder Kermani, dia sangat bangga atas keberanian yang dilakukan adiknya.

“Dia sangat berani,” kata Alam. “Saya mendengar dari orang-orang di sana…ada beberapa saksi yang mengatakan dia menyelamatkan beberapa orang dengan mencoba menghentikan pelakunya.”

Dia menambahkan, kendati saudaranya dielu-elukan sebagai pahlawan, peristiwa tersebut tetaplah tragedi bagi keluarganya.

“Itu menjadi kebanggaan kami, namun itu juga merupakan tragedi. Rasanya seperti kehilangan anggota tubuh.”

Media playback tidak ada di perangkat Anda

Ali Adeeba: “Dia (ayah) menghadang peluru untuk saya”

Dia juga mengatakan sangat marah atas apa yang terjadi pada adiknya.

“Teroris tidak punya agama,” katanya dan mengatakan bahwa “orang-orang gila” harus dihentikan.

Peristiwa kepahlawanan serupa juga terjadi di Masjid Linwood.

Abdul Aziz mengatakan dia lari ke arah pelaku di luar masjid dan melempar mesin EDC (alat pembayaran menggunakan kartu kredit/debit) pada pelaku penembakan.

Setelah itu, sang pelaku menjatuhkan salah satu senjatanya dan mengambil lebih banyak senjata dari mobilnya. Aziz mengambil senjata yang jatuh lalu melemparkannya ke arah pelaku dan menghantam jendela mobilnya hingga pecah.

Pelaku kemudian kabur dan ditangkap tidak lama setelahnya.

Pihak kepolisian di Selandia Baru kini berpacu dengan waktu mengidentifikasi korban penembakan yang tewas. Mereka telah menginformasikan daftar korban tewas pada keluarga, namun daftar tersebut tidak disebarkan ke publik.

Hak atas foto
Reuters

Image caption

Omar Nabi memegang ponsel dengan foto ayahnya, Daoud, salah satu korban penembakan di dua masjid di Selandia Baru.

Adapun beberapa korban tewas dalam penembakan tersebut adalah:

  • Sayyad Milne, 14, yang bercita-cita menjadi pemain sepak bola.
  • Daoud Nabi, 71, yang dipercaya menghadang pelaku untuk menyelamatkan orang lain di masjid.
  • Khaled Mustafa, pengungsi Suriah, dan
  • Hosne Ara, 42, yang tewas saat mencari suaminya yang menggunakan kursi roda – suaminya selamat.

Bagaimana kronologi peristiwa?

Laporan pertama terjadinya penembakan datang dari Masjid Al Noor di pusat kota Christchurch saat salat Jumat pukul 13:40 waktu setempat.

Pelaku menyetir ke arah masjid, memarkir mobilnya dan memberondong dengan senapan sembari berjalan masuk ke dalam masjid melalui pintu utama. Dia menembak laki-laki, perempuan bahkan anak-anak selama lima menit. Dia menyiarkan aksinya tersebut melalui kamera yang dipasang di kepalanya dan dia pun menyebutkan identitasnya di video tersebut.

Pelaku kemudian mengemudi sejauh lima kilometer menuju masjid lainnya di Linwood, di mana aksi penembakan kedua terjadi.

Hak atas foto
Reuters

Perdana Menteri Ardern mengatakan senapan yang digunakan pelaku telah dimodifikasi dan mobil yang dikendarai pelaku penuh dengan senjata, yang menunjukkan “niat pelaku untuk melakukan lebih banyak serangan”.

Pelaku mendapatkan lisensi kepemilikan senjata pada November 2017 yang membuatnya bisa membeli semua senapan yang dia gunakan dalam serangan tersebut.

Pelaku tidak termasuk dalam radar dinas keamanan di Australia dan Selandia Baru.

Media playback tidak ada di perangkat Anda

Imam Linwood: Kami masih mencintai negara ini

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Sydney Opera House memproyeksikan daun pakis perak sebagai tanda belasungkawa bagi keluarga korban yang tewas dalam serangan teror di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru.

Sebelum terjadinya serangan, akun media sosial atas nama Brenton Tarrant digunakan untuk mengunggah manifesto bernada rasis, di mana dia juga menyebut dua masjid yang menjadi target serangan.

Manifesto itu diberi judul ‘The Great Replacement’, yang diambil dari frase di Prancis yang kerap digunakan oleh ekstremis anti-imigran Eropa. Pelaku disebut telah merencanakan aksinya setelah kunjungannya ke Eropa tahun 2017 dan terpicu oleh peristiwa serangan di wilayah tersebut.

Pelaku mengirimkan manifesto itu ke 70 orang, termasuk ke alamat publik Jacinda Ardern, kurang dari 10 menit, sebelum serangan terjadi, lapor New Zealand Herald.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *