Pemilu 2019: Inilah relawan independen penjaga suara Anda


Ingin mencari caleg sesuai kriteria Anda? Anda ingin melaporkan dugaan pelanggaran pemilu? Atau Anda mau berpartisipasi melapor hasil hitung suara capres? Berikut pemantau independen yang siap membantu calon pemilih di Pemilu 2019.

Hak atas foto
YUSRAN UCCANG/ANTARA FOTO

Image caption

Warga melintas di dekat spanduk sosialisasi Pemilu 2019 yang dipajang di Kantor KPUD Wamena, Jayawijaya, Papua, Minggu (14/04).

Errick Tanjung memacu sepeda motornya dari kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Belum 500 meter berlalu, pandangannya jatuh tertumpu pada sebatang pohon di Jalan Letjen Soeprapto.

Pada pohon itu terpampang foto calon legislatif dengan paku yang menancap. Ia berhenti sejenak. Lalu memotret atribut kampanye yang tidak pada tempatnya itu sebagaimana diatur KPU.

Setiba di kantornya, di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Erick menulis beberapa kalimat, untuk menerangkan foto yang diambil.

Foto dan tulisan pendek dikirim via WhatsApp ke nomor kontak Matamassa, sebuah kelompok relawan pemantau pemilu. Kata Errick, banyak sekali pemandangan serupa itu yang ia temukan

Kotak suaraHak atas foto
YUSUF NUGROHO/ANTARA FOTO

Image caption

Petugas Pemilu mendistribusikan logistik pemilu ke Desa Parang yang berada di Pulau Parang, Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah, Minggu (14/04).

“Dipaku di pohon masih banyak saya temukan, tadi pagi pun saya masih temukan,” katanya kepada Arin Swandari untuk BBC News Indonesia (Jumat, 12/04).

Errick adalah salah satu adalah relawan Matamassa. Ia tidak dibayar untuk membuat laporan pelanggaran tersebut.

Kisah lainnya adalah sosok Teuku Radja Shahnan, yang pernah bertanya-tanya, apa yang dikerjakan anggota parlemen yang dia pilih pada 2009.

Pertanyaan itu yang lantas mendasari Radja bersama teman-temannya membangun platform yang diberi nama Jari Ungu, sebuah platform untuk memantau anggota parlemen terpilih.

Jari Ungu kembali hadir pada pemilu 2014 dan 2019 dengan menyuguhkan profil para caleg, untuk membantu calon pemilih mencari tahu calon legislatif yang hendak dicoblos.

situs Jari UnguHak atas foto
Jari Ungu

Raja meletakkan Jari Ungu layaknya sebuah warteg. “Orang warteg buat makanan bukan hanya untuk dijual, tapi juga dimakan sendiri. Kita bikin ini juga begitu, bukan hanya untuk orang lain, ketika hari H saya akan memilih, siapa yang akan saya pilih, dengan sudut pandang itu semua jadi berubah,” lanjutnya.

Ada banyak kelompok relawan bermunculan dan meramaikan pantuan pemilu 2019 secara digital. Ada banyak cerita yang mengiringinya.

Jari Ungu: Membantu cari caleg sesuai kriteria

Ketiklah kriteria caleg Anda, temukan daftarnya di Jari Ungu. Masukkan nama kecamatan daerah pemilihan Anda di website Jariungu.com, maka akan muncul daftar calon legislatif. Anda bisa menambahkan kriteria, misalnya laki-laki atau perempuan, lalu tergabung dalam calon presiden 01 atau 02, juga level pendidikan.

Kotak suaraHak atas foto
Adli Ghazali/Anadolu Agency/Getty Images

Koordinator Litbang dan Teknis, Teuku Radja Shahnan mengatakan pada pemilu legislatif 2019 ini, Jari Ungu telah menambahkan sembilan kriteria penyaringan. Fitur itu bernama saring caleg. “Misalnya saya hanya mau caleg yang wanita saja, maka dari tampilan itu yang pria akan ketutup,” Radja mencontohkan.

Dengan demikian, kata Radja, nama-nama yang muncul akan mengerucut sesuai kriteria calon pemilih.

Sumber informasi konten Jari Ungu berasal dari data KPU pusat dan daerah. “Kami olah lagi agar lebih mudah ditampilkan,” lanjutnya.

Untuk profil 2019 ini lima orang relawan Jari Ungu ditambah pekerja outsource mengumpulkan dan mengolah data caleg sejak September 2019.

selfie di TPSHak atas foto
ANTARA FOTO/Rahmad

Image caption

Warga menunjukkan selebaran sosialisasi lomba “Selfie di TPS” pemilu serentak 2019 di Lhokseumawe, Aceh, Minggu (14/04).

Jari Ungu memilih fokus pada profil caleg. Alasannya menurut Radja, peran parlemen yang penting kerap kali dilupakan.

“Parlemen terlibat sangat kuat dalam pemerintahan Indonesia, ketika parlemennya bagus, maka hasil pemerintahannya bisa dianggap bagus, ketika parlemennya jelek, maka hasilnya ya juga tidak bisa diharapkan.”

Radja mengatakan Jari Ungu melayani semua orang, tidak memilah partai atau paslon dalam menampilkan profil para caleg.

Kolaborasi Kawalpemilu.org dan Kawal Pemilu Jaga Suara

Delapan ribu lebih relawan telah terdaftar dan terverikasi sebagai pemantau Kawal Pemilu Jaga Suara 2019 KPJS.

Mereka siap memotret dan mengunggah form C1 plano yaitu tabulasi hasil hitung suara di TPS ke situs Kawalpemilu.org pada 17 April nanti.

Adalah Hadar Gumay, mantan komisioner KPU periode lalu yang terus getol merekrut relawan KPJS. Hadar merupakan peneliti senior di Network for Democracy and Electoral Integrity Netgrit yang menggandeng Kawalpemilu.org untuk mengawal hitung suara.

Hadar GumayHak atas foto
Kompas.com/Tribunnews

Image caption

Hadar Gumay, peneliti senior di Network for Democracy and Electoral Integrity Netgrit yang menggandeng Kawalpemilu.org untuk mengawal hitung suara.

“Kalau kita sudah memberikan suara kita melalui cobloson, kemudian suara itu sudah dihitung, kita perlu ikut menjaganya, memastikan bahwa hitungan suara itu tetap seperti apa adanya, tidak berubah di proses selanjutnya,” katanya.

Semua orang bisa berpartisipasi di kawal pemilu, meski tidak terdaftar sebagai pemantau KPJS 2019 yang terverifikasi, ujarnya.

“Kami berharap pada hari H pemungutan suara para warga yang mendengar, tetap meng-upload foto dari C1-plano itu, ke portal yang telah kami sediakan,” kata Hadar.

Dengan cara itu, kata Hadar, masyarakat bisa membantu menciptakan satu pemilu dengan kepercayaan publik yang tinggi.

Yang sudah menjadi relawan KPJS, saat ini terus bergerak mengajak yang lain untuk bergabung. Nantinya mereka yang diajak akan menerima undangan melalui akun Facebook dengan kode referral tertentu, ujarnya.

Celupkan tintaHak atas foto
Adli Ghazali/Anadolu Agency/Getty Images

“Yang tanpa undangan juga bisa masuk,” tegasnya. “Bukan hanya orang-orang non partisan, pihak-pihak yang kami harapkan meng-upload foto itu bisa juga dari peserta pemilu, dari para saksi bahkan dari penyelenggara pemilu.”

Hadar menjelaskan, siapa saja boleh meng-upload, namun pada tahap berikutnya, yaitu proses digitalisasi dilakukan oleh moderator yang sudah terverifikasi, dan dipastikan bukan partisan atau netral.

Menurut Hadar KPJS hadir didasari perlunya ada penghitungan alternatif yang sifatnya pararel, dari yang dilakukan penyelenggara pemilu.

Berbagai komunitas telah bergabung dalam KPJS 2019, antara lain JPPR, KIPP, Ikatan Alumni UI, Pemuda Ansor, wakil Muhamddyah dan lain-lain. Sebaran relawan yang telah mendaftar mencakup seluruh Indonesia, dari Aceh hingga Papua.

‘Jadi e-saksi Mata Rakyat Indonesia bisa dapat hadiah’

Mata Rakyat Indonesia yang baru terbentuk awal 2019 ini menawarkan pengawalan pemilu melalui aplikasi Android dan IOS.

Kotak suaraHak atas foto
ARNAS PADDA/ANTARA FOTO

Image caption

Petugas Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) mempersiapkan logistik Pemilu 2019 sebelum didistribusikan ke tempat pemungutan suara (TPS) di Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (14/04).

Sekretaris Jendral Bayu Adi Permana menjelaskan, Mata Rakyat bergerak dengan menggandeng sejumlah lembaga pemantau. Yaitu JPPR Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat, KIPP atau Komite Independen Pemantau Pemilu, Sindikasi Pemilu untuk Demokrasi, serta Kode Inisiatif.

Lewat aplikasi Android dan IOS, Mata Rakyat, kata Bayu, mengajak publik menjadi relawan atau e-saksi untuk melaporkan berbagai hal tentang pemilu 2019.

“Hasil penghitungan semua level, Presiden, DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten, DPD RI, kecurangan, dan pelanggaran pemilu,” kata Bayu.

Sampai dengan akhir Maret, jumlah relawan atau e-saksi yang terhimpun sekitar 86 ribu orang di 15 provinsi.

“Masih jauh, kebutuhan TPS di Indonesia kan besar, ada 800 ribu sekian TPS, makanya kita dorong dengan aplikasi ini, semoga kita bisa meng-coverage keseluruhan area,” lanjutnya.

Jangan GolputHak atas foto
FIKRI YUSUF/ANTARA FOTO

Image caption

Polwan Polresta Denpasar melakukan sosialisasi Gerakan Anti Golput di kawasan Renon, Denpasar, Bali, Minggu (14/04).

Calon e-saksi bisa mendaftar dengan menggunakan KTP dan nomer telepon yang telah didaftarkan sesuai KTP.

Ini merupakan langkah validasi awal calon relawan pemantau. “Yang kedua dari data-data yang lain, kita lihat instagramnya dia media sosialnya dia,” tambah Bayu.

Selanjutnya saat pelaporan juga ada validasinya. “Setiap data yang dia laporkan, kalau dia memilih sebagai relawan pelapor atau pemantau, akan kita klarifikasi. Jadi sistem mendata dulu, data masuk, kita punya relawan di daerah, di provinsi ada, kota ada, kita akan terjunkan tim untuk meverifikasi.”

Setiap e-saksi dengan menggunakan satu aplikasi hanya bisa melaporkan pemantauan maksimal tiga TPS.

Kotak suaraHak atas foto
BAYU PRATAMA S/ANTARA FOTO

Image caption

Personel Polri mengawal sejumlah pekerja pengangkut barang (porter) menyeberangi sungai saat membawa logistik Pemilu serentak 2019 ke dua desa terpencil di kaki Pegunungan Meratus, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, Minggu (14/04).

Untuk mendorong lebih banyak e-saksi yang terhimpun, Mata Rakyat menawarkan hadiah.

“Bagi mereka yang telah melaporkan secara lengkap akan mendapatkan kode unik. Nah kode unik akan kita undi beberapa hari setelah pemilu. Bagi yang kode uniknya muncul akan mendapat hadiah menarik dari kami.”

Bayu menegaskan Mata Rakyat adalah kelompok relawan pemantau yang bergerak netral dalam pemilu 2019. “Yang harus kita jaga kita legitimasinya,” katanya.

Mata Massa tetap memantau meski tak lagi ada dana

Matamassa sudah memulai kiprahnya sejak 2014 dan merupakan proyek bersama Aliansi Jurnalis Independen, AJI Jakarta, I-Lab, Perludem, dan Kode Inisiatif.

Matamasa fokus pada pelaporan pelanggaran dan kecurangan pemilu melalui aplikasi Android. Saat ini tercatat sekitar 70 relawan pemantau.

Mata MassaHak atas foto
Mata Massa

“Kalau melihat pelanggaran mereka motret, mereka kirim ke WhatsApp, terus kasih tahu titik lokasi, nanti kita akan kita verifikasi,” kata Jakson Simanjutak Project Officer Matamassa.

Setelah terverifikasi akan dikumpulkan dan kemudian diserahkan kepada pengawas pemilu.

Matamassa masih membutuhkan lebih banyak relawan yang siap melaporkan pelanggaran baik administrasi maupun pidana.

Meski tak lagi ada penadanaan kata Jakson, para relawan yang sebagian adalah jurnalis memutuskan untuk terus membantu mengawal pemilu dengan melaporkan pelanggaran.

“Tetap bergerak karena sudah ada platform ini,” lanjut Jakson.

Kehadiran mereka menggembirakan

Pengamat Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Sandra Luky, melihat kehadiran para relawan pemantau pemilu menggembirakan.

Pada 2014 lalu, kata Sandra, Kawal Pemilu berhasil menunjukan peran pemantau independen dengan memanfaatkan platform digital.

surat pemberitahuan pemungutan suaraHak atas foto
RAHMAD/ANTARA FOTO

Image caption

Petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) menunjukkan surat pemberitahuan pemungutan suara kepada pemilih model C6 yang akan diantarkan ke rumah warga di perkampungan nelayan Desa Pusong Baru, Lhokseumawe, Aceh, Minggu (14/04).

“Kita semua bisa melihat hasil pemilu dengan cepat, dan itu mengurangi risiko jual beli suara, suara digeser-geser risikonya terkurangi di situ,” katanya.

Sandra sempat ragu, pemantau pemilu 2019 akan muncul. Namun di bulan-bulan terakhir mereka bermunculan melalui media sosial.

Kehadiran pemantau pemilu independen, kata Sandra, juga bisa berperan mengurangi keterbelahan masyarakat yang muncul akibat adanya dua kubu paslon capres dan cawapres.

“Tapi kalaupun yang ikut gerakan pemantau pemilu adalah simpatisan atau pendukung dari dua kubu, tidak masalah, menurut saya malah bisa jadi semacam saling mengawasi, pendukung kubu bisa mengawasi kubu b dan sebaliknya,” tambahnya.

Pemantau pemilu akan bergerak untuk mengurangi pelanggaran pemilu dan beredarnya hoaks, sehingga masyarakat bisa cepat tahu yang sebenarnya.

Pengiriman kotak suaraHak atas foto
M RISYAL HIDAYAT/ANTARA FOTO

Image caption

Petugas mengangkat logistik Pemilu 2019 yang akan didistribusikan ke Kepulauan Seribu di Pelabuhan Marina Ancol, Jakarta Utara, Minggu (14/04).

Para relawan dalam pantauan Sandra berasal dari semua kalangan, dari milenial hingga yang lebih dewasa.

Kata Sandra, ini menunjukkan besarnya peran publik untuk menjadikan pemilu yang demokratis.

Dalam kerja-kerja pemantau independen ini, kata dia, pendidikan politik justru berjalan jauh lebih maksimal, ketimbang pendidikan politik yang dilakukan partai.

“Sementara partai politik tidak maksimal, bahkan tidak melakukan pendidikan politik pada teman-teman yang muda ini,” lanjutnya.

BBC News Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *