Loading...

Nominasi Oscar: Mengapa tak ada sutradara perempuan jadi unggulan?


Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Film Little Women jadi unggulan film terbaik, tetapi sang sutradara, Greta Gerwig, tidak diunggulkan untuk sutradara terbaik.

Tahun 2019 hampir 10% film-film laris di Amerika disutradarai oleh perempuan. Ini melonjak dari 4,5% di tahun 2018.

Namun satu hal masih sama: tak ada sutradara perempuan yang menerima nominasi Piala Oscar.

Selamat kepada para sutradara pria

Ketiadaan sutradara perempuan merupakan kontroversi terbesar menjelang malam pengumuman tanggal 9 Februari mendatang.

Reaksi terhadap hal ini juga sudah bermunculan.

Pembawa acara dan artis Issa Rae yang membacakan nominasi tanggal 13 Januari lalu menyatakan, “Selamat kepada para sutradara pria ini”.

Ketiadaan Greta Gerwig – yang menyutradari Little Women – dalam daftar unggulan sutradara terbaik dianggap sangat mengejutkan.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Dua tahun berturut-turut tidak ada sutradra perempuan jadi unggulan Piala Oscar untuk sutradara terbaik.

Film yang merupakan adaptasi novel karya Louisa May Alcott tahun 1868 ini mendapat sambutan baik dari para kritikus, serta jadi unggulan film terbaik.

Biasanya film yang jadi unggulan kategori film terbaik, sutradaranya juga jadi unggulan untuk kategori sutradara terbaik.

Ini terjadi setidaknya dalam 65 dari 91 film yang pernah meraih Piala Oscar,

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Sutradara dan awak pekerja film Little Women di rumah penulis Louisa May Alcott, dengan Greta Gerwig kedua dari kiri.

Apa kata Greta Gerwig?

Aktor Florence Pugh menyatakan kekecewaannya atas ketiadaan Greta Gerwig dalam daftar unggulan.

“Ia bikin film tentang perempuan bekerja dan hubungan mereka dengan uang serta pekerjaan di dunia laki-laki,” kata Pugh menekankan pentingnya film Little Women ini.

Greta sendiri mencuitkan pertanyaan di mana ia berterima kasih kepada Academy of Motion Pictures Arts and Sciences, lembaga yang memberi penghargaan Oscar.

“Semua yang bekerja di film ini mencurahkan hati dan jiwa mereka ke film ini, maka kami sangat berterima kasih Academy mengakui kerja kolektif ini.”

Satu dalam 91 tahun

Academy sendiri membela diri soal keseimbangan gender dalam daftar unggulan.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Lina Wertmüller asal Italia merupakan perempuan pertama yang jadi unggulan sutradara terbaik Oscar, tahun 1977.

Pernyataan mereka menekankan “rekor adanya 62 perempuan yang jadi unggulan, hampir sepertiga dari unggulan tahun ini”.

Namun lebih dari 9.000 anggota Academy didominasi pria kulit putih.

Tahun lalu Academy mengungkapkan hanya 32% anggotanya perempuan dan 16% bukan kulit putih.

Ini bisa menjelaskan data dari 10 tahun terakhir penghargaan Oscar di mana hanya ada 26 aktor non-kulit putih di antara 200 unggulan dalam empat kategori akting.

Minimnya keragaman ini membuat tagar #OscarsSoWhite muncul tahun 2015 dan 2016.

Ramin Setoodeh, penulis majalah Variety, bercuit: “Tiada Greta Gerwig untuk ‘Little Women,’ tiada Lulu Wang untuk ‘The Farewell,’ tiada Lorene Scafaria untuk ‘Hustlers,’ tiada Melina Matsoukas untuk ‘Queen & Slim’ tiada Marielle Heller untuk ‘A Beautiful Day in the Neighborhood.’ Sekali lagi, Oscar mengunggulkan lima pria untuk jadi sutradara terbaik tahun ini.”

Kirsten Schaffer, Direktur serikat pekerja perempuan dalam industri film Amerika Women in Film menyatakan pada majalah Deadline bahwa upaya keseimbangan gender itu tidak serta merta terjadi.

“Tanpa adanya perubahan sistemik dalam industri dan komitmen sejati pada kesetaraan dalam soal finansial, distribusi dan pemasaran, tren ini akan terus terjadi,” katanya.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Kathryn Bigelow menjadi sutradara perempuan pertama dan satu-satunya yang mendapat Oscar untuk sutradra terbaik.

Sejak Oscar pertamakali diselenggarakan tahun 1929, hanya lima perempuan yang pernah jadi unggulan sutradara terbaik – yang pertama adalah sutradara Italia, Lina Wertmüller, tahun 1977.

Perempuan yang pertamakali mendapatkan Oscar untuk sutradara terbaik adalah Kathryn Bigelow tahun 2010 untuk film The Hurt Locker.

Lembaga pengkaji keragaman dari University of South California, Annenberg Inclusion Initiative, meneliti keseimbangan gender untuk empat penghargaan utama di Amerika Serikat (Golden Globe Awards, The Directors Guild of America, the Oscars, dan Critics’ Choice).

Pemenang dalam 13 tahun terakhir diteliti dalam laporan mereka ini.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

The Annenberg Inclusion Initiative menemukan 94.9% penghargaan film di Amerika Serikat selama 13 tahun terakhir dialokasikan kepada sutradara pria.

“Dari total 273 unggulan, 94.9% dialokasikan kepada sutradara pria”.

Unggulan untuk non kulit putih juga menurun, menurut lembaga ini.

Jika pada tahun 2018 julmlahnya 21,4%, tahun 2019 ini jumlahnya 16.8%.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *