Loading...

‘New normal’: Menkes terbitkan panduan pencegahan Covid-19 di tempat kerja, ‘dunia kerja tidak mungkin selamanya dilakukan pembatasan’


Hak atas foto
Antara/IRWANSYAH PUTRA

Image caption

Petugas kasir salah satu pusat perbelanjaan memakai pelindung wajah dan masker saat melayani konsumen di Banda Aceh, Aceh. Pemakaian face shield dan masker oleh para pekerja sebagai upaya mengantisipasi penyebaran dan penularan virus corona.

Menteri Kesehatan RI, dr Terawan Agus Putranto, telah menerbitkan protokol normal baru (new normal) bagi perkantoran dan industri dalam menghadapi pandemi virus corona atau Covid-19.

Protokol tersebut diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi.

Namun, pengawasan pemberlakukan protokol ini dipertanyakan. Seorang pekerja perusahaan swasta di Jakarta mengaku harus bertemu 30 orang rekan kerjanya dalam ruang kantor yang sempit, tanpa menjaga jarak.

Sebelumnya, Peraturan Pemerintah nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam rangka percepatan penanganan Covid-19 telah menyatakan bahwa PSBB dilakukan salah satunya dengan meliburkan tempat kerja.

Akan tetapi, situs resmi Kementerian Kesehatan menyebutkan “dunia kerja tidak mungkin selamanya dilakukan pembatasan, roda perekonomian harus tetap berjalan”.

”Untuk itu pasca pemberlakuan PSBB dengan kondisi pandemi Covid-19 yang masih berlangsung, perlu dilakukan upaya mitigasi dan kesiapan tempat kerja seoptimal mungkin sehingga dapat beradaptasi melalui perubahan pola hidup pada situasi Covid-19 atau New Normal,” kata Menkes Terawan seperti dikutip dalam laman resmi Kemenkes.

Hak atas foto
Reuters

Image caption

Para pekerja sebuah perkebunan di Riau diperiksa suhu tubuhnya saat memasuki tempat kerja.

Menkes mengatakan dunia usaha dan masyakat pekerja memiliki kontribusi besar dalam memutus mata rantai penularan karena besarnya jumlah populasi pekerja dan besarnya mobilitas, serta interaksi penduduk umumnya yang disebabkan aktivitas bekerja.

”Tempat kerja sebagai lokus interaksi dan berkumpulnya orang merupakan faktor risiko yang perlu diantisipasi penularannya,” katanya di Jakarta, Sabtu (23/05), sebagaimana dimuat dalam laman resmi Kemenkes.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Prosedur menjaga jarak diterapkan di kantor-kantor Korea Selatan, sejak April lalu. Aturan ini tak hanya ditegakkan di ruang kerja, tapi juga di kantin kantor.

‘Tiadakan sif tiga, jika memungkinkan’

Ada beragam ketentuan dalam panduan yang dirilis Kementerian Kesehatan.

Pihak manajemen tempat kerja, misalnya, harus menentukan pekerja esensial yang perlu tetap bekerja/datang ke tempat kerja dan pekerja yang dapat melakukan pekerjaan dari rumah

Jika ada pekerja esensial yang harus tetap bekerja selama PSBB berlangsung, harus disediakan alat pengukuran suhu tubuh di pintu masuk tempat kerja.

Kemudian, mengatur waktu kerja yang tidak terlalu panjang atau lembur “yang akan mengakibatkan pekerja kekurangan waktu untuk beristirahat yang dapat menyebabkan penurunan sistem kekebalan/imunitas tubuh”.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Seluruh pegawai di Korsel diharuskan memakai masker dan menjaga jarak di ruang kerja.

Untuk pekerja sif:

  • Jika memungkinkan tiadakan sif tiga (waktu kerja yang dimulai pada malam hingga pagi hari)
  • Bagi pekerja sif tiga, atur agar yang bekerja terutama pekerja berusia kurang dari 50 tahun.
  • Mewajibkan pekerja menggunakan masker sejak perjalanan dari/ke rumah, dan selama di tempat kerja.
  • Mengatur asupan nutrisi makanan yang diberikan oleh tempat kerja, pilih buah-buahan yang banyak mengandung vitamin C seperti jeruk, jambu, dan sebagainya untuk membantu mempertahankan daya tahan tubuh. Jika memungkinkan pekerja dapat diberikan suplemen vitamin C.

Ketentuan lainnya dalam panduan Kemenkes adalah perusahaan wajib menerapkan physical distancing dengan jarak antar-karyawan selama bekerja di lokasi kerja, baik kantor maupun industri, minimal satu meter.

Hak atas foto
AFP/Getty Images

Image caption

Lift hanya dapat menampung beberapa orang. Di dalam lift pun, orang-orang harus menjaga jarak.

‘Sempit, tidak menjaga jarak di kantor’

Akan tetapi, panduan ini tidak menyebutkan bagaimana pengawasan terhadap pelaksanaan protokol “new normal”.

Seorang pekerja perusahaan swasta di Jakarta yang sudah mulai sejak 13 Mei lalu mengaku harus bertemu 30 orang rekan kerjanya dalam ruang kantor yang sempit, tanpa menjaga jarak.

Ia mengatakan cemas terpapar Covid-19.

“Yang aku khawatirkan penularan, karena walau jaga jarak, kita tidak pernah tahu. Virus yang kita hadapi ini tidak kelihatan,” kata Dea.

“Saat 100% karyawan masuk, kita tidak bisa menghindar, walau rajin cuci tangan. Mungkin saja penularan itu masih terjadi. Saya pasrah saja,” tuturnya.

Belum ada data resmi berapa jumlah perkantoran hingga pabrik yang menghentikan sistem kerja dari rumah.

Pada 15 Mei lalu, Presiden Joko Widodo juga sudah menyinggung tentang pentingnya kesiapan masyarakat dalam menghadapi apa yang disebutnya sebagai “tatatan kehidupan baru”.

“Kebutuhan kita sudah pasti berubah untuk mengatasi risiko wabah ini. Itu keniscayaan, itulah yang oleh banyak orang disebut sebagai new normal atau tatanan kehidupan baru,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *