Loading...

Meningkatnya ‘generasi bumerang’ di Inggris


  • Endang Nurdin
  • Wartawan BBC Indonesia

Keterangan gambar,

Banyak lulusan universitas yang kembali tinggal bersama orang tua mereka.

Beberapa kali saya mendengar putri tetangga yang masuk bangku kuliah tahun ini, bahwa dia sudah tidak sabar keluar dari rumahnya.

Saya ingin buru-buru terbang, katanya.

Usia 18 tahun di Inggris – seperti umur putri tetangga itu atau umur saat masuk perguruan tinggi – biasanya merupakan batas di mana remaja sudah mulai mandiri dan tidak tergantung lagi dari orang tua mereka, terutama dari sisi finansial.

Untuk urusan uang kuliah, pemerintah Inggris memang menyediakan pinjaman dengan bunga sangat rendah, dan termasuk pinjaman untuk biaya hidup, kos dan makan.

Pinjaman bunga rendah ini baru mulai dicicil begitu mereka memiliki penghasilan cukup.

Namun tingginya angka pengangguran dan ditambah dengan tingginya biaya sewa kamar atau pun flat dalam beberapa tahun terakhir ini menyebabkan meningkatnya jumlah lulusan universitas yang kembali ke rumah orang tua mereka.

Istilah untuk mereka yang masih tinggal dengan orang tua ini disebut generasi bumerang, senjata di Australia yang memang sengaja dilempar namun kembali lagi.

Data terakhir di Inggris menunjukkan sekitar 3,3 juta warga berusia antara 20-34 tahun masih tinggal bersama orang tua mereka.

Angka ini, 25% lebih tinggi dibandingkan 1996, tahun di mana badan statistik nasional mulai melakukan penghitungan jumlah generasi bumerang ini.

Alasan utama di balik ini memang ekonomi.

Indikasi kegagalan?

Jumlah pinjaman rata-rata bagi lulusan universitas sekitar £40.000 sampai £50.000.

Dan tingginya harga sewa menjadi tidak memungkinkan bagi banyak di antara mereka untuk menabung untuk persiapan cicilan beli rumah di luar keperluan hidup sehari-hari.

Generasi bumerang ini sangat lekat dengan stigma bahwa mereka yang menginjak usia dewasa dan masih tinggal bersama orang tua dianggap sebagai tanda kegagalan dalam hidup, satu indikasi bahwa mereka tidak bisa independen.

Namun isu ‘bumerang’ ini bukan masalah besar bagi komunitas Asia Selatan yang banyak tinggal di Inggris.

Banyak keluarga Asia Selatan misalnya tinggal dalam satu atap, bahkan ada yang tiga generasi sekalipun.

Begitu orang tua memasuki usia lanjut, gantian anak yang merawat orang tua mereka.

Di negara Eropa lain, termasuk di negara-negara seputar Laut Tengah, tradisi tinggal bersama orang tua juga sudah biasa.

Tingginya biaya hidup dan pasar tenaga kerja yang semakin kompetitif merupakan isu besar saat ini bagi generasi muda di Inggris.

Namun dengan semakin tingginya jumlah orang dewasa yang masih tinggal bersama orang tua mereka, saat ini mungkin saatnya bagi banyak orang tua di Inggris yang harus menerima bahwa ‘bumerang’ mereka tidak perlu dilempar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *