Loading...

Mengapa semakin banyak karyawan di berbagai negara cuti untuk bekerja?


Hak atas foto
Getty Images

Pallavi Varma sering bekerja enam atau tujuh hari seminggu sesuai panggilan sebagai bagian dari pekerjaannya di sebuah biro perjalanan. Perempuan India berusia 24 tahun itu bekerja keras sebagai pembuat konten kreatif sambil berusaha menyelesaikan studinya di universitas setempat.

Dan terkadang ia merasa tidak mempunyai cukup waktu dalam sehari.

“Saya kadang-kadang harus mengejar ketinggalan dengan bekerja pada hari Minggu atau pada hari libur nasional untuk mengganti waktu yang hilang,” katanya.

Ia tidak merasa begitu keberatan melakukannya — itu memungkinkannya untuk bekerja lebih efisien, ujarnya, karena ia merasakan lebih sedikit tekanan saat tidak bekerja di lingkungan kantor.

“Produktivitas saya sangat meningkat ketika saya bekerja di waktu istirahat,” kata Varma.

Varma bukan satu-satunya. Ahli gizi dan kebugaran Tom Jenane (31), yang tinggal di Inggris, mengambil liburan pertamanya untuk mengejar pekerjaan tahun lalu. Ia punya tugas-tugas lain di samping menulis deskripsi produk yang dijual di perusahaan tempatnya bekerja, dan mendapati bahwa ia tidak bisa menyelesaikan semuanya selama hari kerjanya.

“Saya mengambil cuti untuk duduk di rumah dan menulis deskripsi produk,” katanya. “Saya bangun tanpa alarm, membuat kopi untuk diri saya sendiri, duduk di sofa dengan laptop, dan memutar musik.”

Jauh dari gangguan notifikasi kotak masuk, godaan untuk berbincang ngalor-ngidul dengan rekan kerja, dan tekanan kehidupan kantor yang telah berusaha ia bereskan sekian lama, Jenane hanya butuh satu hari untuk menuntaskan tugasnya.

Tapi ia harus menghabiskan satu hari yang berharga dari jatah cuti tahunannya.

Jenane dan Varma mewakili fenomena yang disebut leaveism (dari kata leave, yang berarti cuti) — di mana karyawan merasa terdorong untuk menggunakan waktu libur mereka untuk mengejar beban kerja mereka, bebas dari gangguan kantor.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Data PBB menunjukkan angka pengangguran naik dari 178 juta pada 2007, sebelum krisis kredit, menjadi 205 juta pada 2009.

Dari krisis kredit hingga krisis beban kerja

“Saya menduga fenomena ini selalu ada dalam berbagai bentuk bagi pekerja bergaji,” kata James Richards, asisten profesor ilmu manajemen sumber daya manusia di Heriot-Watt University, yang melakukan survei skala besar tentang suburnya leaveism.

“Anda punya kontrak yang tidak jelas, tetapi ada harapan untuk memenuhi tenggat waktu dan permintaan yang naik-turun.”

Hampir dua pertiga sumber daya manusia profesional di dunia usaha Inggris menjalani leaveism tahun lalu, menurut survei oleh Chartered Institute of Personel and Development (CIPD). Dan jumlahnya meningkat.

“Kami melihat semakin banyak fenomena ini, karena sejak resesi terakhir, sebagian besar organisasi semakin padat dan ramping,” jelas Cary Cooper, profesor psikologi organisasi di Manchester Business School dan presiden CIPD. “Kami baru mulai menyadari betapa besarnya masalah ini.”

Cooper memperkirakan bahwa sekitar sepertiga dari karyawan di seluruh dunia telah mengambil cuti kerja untuk mengejar ketertinggalan mereka, dan khawatir bahwa itu akan lebih mungkin terjadi jika terjadi resesi lain.

Jumlah orang tanpa pekerjaan meningkat dari 178 juta pada 2007 (sebelum krisis finansial) menjadi 205 juta pada 2009, menurut PBB. Dengan itu, sikap para pekerja berubah.

Less is more” menjadi moto dunia pasca-resesi. Tetapi dengan lebih sedikit orang yang memiliki volume pekerjaan yang sama, beban kerja dapat dengan cepat menjadi tidak tertahankan.

“Ini hanya soal secara realistis memahami berapa banyak yang bisa dicapai dan berusaha menyelesaikan semuanya dalam satu hari,” kata Jenane. “Kita bisa punya tim beranggotakan 100 orang dan masih akan ada lebih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.”

Namun, semua pihak dalam persamaan pekerjaan terus mencoba dan menyelesaikannya.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Sementara 63% dari bisnis Inggris yang disurvei oleh CIPD telah melihat cuti lebih dari 50% belum mencoba untuk mengatasi masalah (Kredit: Getty Images)

“Saya ingin memberi kesan yang baik”

“Jika Anda merasa tidak aman, Anda akan memastikan bahwa Anda bisa bekerja sepanjang waktu dan Anda sangat diperlukan,” kata Cooper.

“Anda akan mengirim email di malam hari, bekerja di malam hari. Anda tidak akan mengambil banyak waktu liburan atau jika Anda berlibur, satu keluarga pergi berlibur tetapi orang tua, baik pria maupun wanita, bekerja di tepi kolam renang. “

Lebih penting lagi, pekerja tidak akan memberi tahu orang lain bahwa mereka melakukannya.

“Saya ingin membuat kesan yang baik pada perusahaan dan klien saya, selama bebannya tidak secara negatif mempengaruhi hasil saya,” jelas Varma. Itu terlepas dari kepercayaannya bahwa majikannya “sangat pengertian dan empati”.

“Mereka bersikeras saya harus lebih banyak istirahat, tetapi saya punya masalah perfeksionisme,” katanya.

Mengakui bahwa beban kerja Anda terlalu besar bisa dianggap sebagai pertanda Anda tidak cocok dengan pekerjaan — membuat Anda rentan dipecat di situasi kerja yang tidak pasti.

Masalahnya semakin besar dan dunia usaha menunjukkan sedikit minat dalam mengatasinya. Meskipun 63% dari perusahaan Inggris yang disurvei oleh CIPD telah menyaksikan leaveism, lebih dari setengahnya belum mencoba untuk mengatasi masalah tersebut.

“Ini semua tentang manajer lini,” kata Cooper. “Salah satu solusi untuk masalah orang melakukan leaveism adalah memiliki manajer lini yang lebih sensitif secara sosial, lebih berempati.”

Pelatihan tentang bagaimana menangani karyawan yang kewalahan dengan beban kerja mereka, dan bagaimana cara menumbuhkan tempat kerja yang mendorong para pegawai untuk menyampaikan kekhawatiran tentang volume kerja mereka, sangatlah penting.

“Manajer harus membantu mengurangi stres di antara staf mereka, bukan menambahnya,” kata Rachel Suff, penasihat hubungan kerja senior di CIPD.

“Tapi terlalu banyak manajer yang belum menerima pelatihan yang memadai, meskipun mereka seringkali menjadi orang pertama yang akan menghadapi karyawan ketika ada masalah.”

Seperempat pelaku bisnis yang mengalami leaveism mengatakan kepada CIPD bahwa mereka mengambil langkah untuk mencegahnya — seringkali dengan menyediakan dukungan yang lebih baik bagi karyawan.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

CIPD melaporkan hampir dua pertiga profesional sumber daya manusia di perusahaan-perusahaan Inggris telah melihat cuti pada tahun lalu (Kredit: Getty Images)

Mengelola keseimbangan

Tetap saja, beberapa pengusaha memahami risiko leaveism di antara para pekerjanya. Varma membahas beban kerjanya dengan bosnya dan perusahaan itu sendiri berkembang, merekrut lebih banyak orang.

Beban kerjanya sejak itu dipisah dengan seorang kolega. “Majikan saya mengakui bahwa saya menanggung banyak beban kerja, membolehkan saya untuk mengatur tempo saya sendiri, dan mengizinkan saya untuk mempekerjakan pekerja magang demi mengurangi beban kerja saya,” katanya.

Ketika Jenane kembali bekerja setelah hari cuti, alasan dia mengambil liburan muncul dalam percakapan dengan manajernya. “Ia jelas sangat sedih mendengar saya menghabiskan waktu libur saya untuk bekerja dan bukannya bersantai,” Jenane menjelaskan.

“Saya paham maksud dia, jangan sampai Anda terlalu memaksakan diri, karena Anda tidak ingin mengalami kelelahan; dan keseimbangan kehidupan-kerja itu penting.”

Itu vital, kata Cooper. “Saya pikir leaveism adalah masalah yang bisa kita atasi,” katanya.

“Kita perlu meyakinkan orang-orang di atas bahwa sebenarnya produktivitas kita akan meningkat jika kita pekerjaan kita lebih seimbang,” tambah Cooper.

“Jika kita membuat orang bekerja sampai mati, mereka tidak hanya akan kelelahan, tetapi tidak ada bukti bahwa cara itu menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi.”

Bos Jenane memintanya tidak mengambil cuti untuk mengejar pekerjaan lagi dan untuk datang dan berbicara dengannya jika ia bermasalah dengan beban kerjanya.

Jenane mendengarkan — tetapi tidak belajar. Sejak saat itu ia telah mengambil cuti satu hari lagi untuk mengejar lebih banyak pekerjaan.

“Bos saya tidak tahu,” katanya. “Tapi itu mungkin berubah dengan artikel ini.”

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris artikel ini, The hidden tactic overload workers are using to catch up, di BBC Worklife.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *