Mengapa ada yang tertarik melakukan ‘jihad dengan kekerasan’


Hak atas foto
Getty Images

Kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) telah kehilangan “kekhalifahan” yang berumur pendek di Timur Tengah.

Ratusan, mungkin ribuan, calon jihadis menjadi bingung dan ingin pulang ke negara asal meskipun terdapat ketakutan akan ditangkap dan dipenjara.

Tetapi kekhawatiran bahwa mereka akan melanjutkan tindak kekerasan tidak menghilang.

Serangan hotel di Nairobi, Kenya, dua minggu lalu oleh kelompok militan al-Shabab pendukung al-Qaida mengingatkan kembali banyak orang tentang berbagai hal.

Banyak wilayah Afrika barat laut sekarang peka terhadap serangan kelompok garis keras di Somalia, Yaman dan Afghanistan.

Jadi apa yang membuat orang tertarik melakukan “jihad dengan kekerasan”?

Tekanan masyarakat

Keputusan untuk meninggalkan kehidupan biasa dengan meninggalkan keluarga dan orang-orang tercinta merupakan sesuatu yang berat.

Para perekrut “jihad dengan kekerasan” akan memainkan pemikiran mereka menjadi korban, pengorbanan dan usaha mencapai sesuatu yang lebih tinggi demi agama.

Selama hampir 20 tahun internet dibanjiri berbagai video propaganda mengerikan, sebagian memperlihatkan penderitaan Muslim di berbagai tempat di dunia, yang lainnya menunjukkan serangan balas dendam dan hukuman terhadap orang-orang yang dipandang sebagai musuh.

Hal ini untuk mencapai dua tujuan.

Pertama, untuk membangkitkan simpati dan bahkan rasa malu orang-orang yang menonton dengan nyaman di rumah mereka lewat komputer jinjing sementara “saudara laki-laki dan perempuan mereka dibunuh” di Suriah, Chechnya atau wilayah Palestina, misalnya.

Kedua, video balas dendam terutama menarik perhatian orang-orang bersifat sadis, sering kali yang telah tercatat sebagai penjahat.

Tekanan masyarakat sekitar dapat menjadi pemicu, yang membuat seseorang yang tadinya hanya sekadar marah dengan berbagai kejadian dunia menjadi pelaku kekerasan.

Di Yordania, saya mewawancarai seorang tahanan di penjara yang dipengaruhi teman dekatnya dari sekolah untuk datang dan bergabung dengannya dengan ISIS di Suriah.

Dia melakukannya dan kemudian menyesalinya. Dia melarikan diri kembali ke Yordania dan kemudian dihukum penjara selama lima tahun.

Orang-orang yang rentan direkrut adalah anak laki-laki dan perempuan muda yang terasing dari keluarga atau masyarakatnya.

Bagi mereka, menjadi bagian dari sebuah organisasi rahasia dan ilegal yang sepertinya menghargai mereka, adalah sebuah pilihan yang menarik, bahkan jika ini berakhir dengan perintah untuk memakai rompi bunuh diri dan meledakkan diri mereka di pasar.

Tata kelola pemerintahan yang buruk

Terdapat alasan mengapa Timur Tengah sejak lama menjadi sumber utama jihadisme dunia.

Rezim korup, tidak demokratis dan sering kali penindas cenderung membuat lawan-lawan politik bergerak di bawah tanah.

Pada permulaan Abad ke-21, Suriah menjadi contoh paling tepat.

Setelah perang saudara terjadi selama hampir delapan tahun, di mana Presiden Bashar al-Assad bisa dikatakan mengalahkan para pemberontak, banyak warga yang masuk ke penjara menjadi sumber rekrutmen kelompok ekstremis.

Di Irak, negara yang dihancurkan oleh invasi pimpinan AS pada tahun 2003, diskriminasi sektarian memainkan peran penting bagi bangkitnya al-Qaida dan ISIS.

Selama delapan tahun penindasan kelompok minoritas Sunni oleh pemerintah yang dipimpin Syiah begitu besar sehingga ISIS (kelompok militan Sunni) dapat menampilkan diri sebagai “pelindung Sunni Irak” dan dengan mudah mengambil alih sebagian besar wilayah negara.

Banyak pihak memandang, di masa depan ISIS akan memanfaatkan ketidakpuasan dan kekecewaan yang timbul di masyarakat.

Yaman, Afghanistan, Somalia dan Sahel (Mali, Niger, Burkina Faso, Chad dan Mauritania) semuanya memiliki wilayah yang tidak diperintah atau dilanda konflik di mana jihadis dapat merekrut, melatih dan merencanakan serangan.

Di Afghanistan, miliaran dolar bantuan dunia gagal menciptakan pemerintah yang diperlukan untuk mengatasi pemberontakan pimpinan Taliban. Korupsi mewabah dan polisi tidak dipercaya banyak pihak.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Sebagian orang menjadi ekstremis di mana keperluan dasar, seperti ketersediaan pangan, tidak ada.

International Crisis Group (ICG) menyatakan berbagai institusi begitu rapuh sehingga tidak bisa “memberikan layanan dasar bagi sebagian besar warga”.

Di daerah pedesaan terpencil, banyak orang Afghanistan lebih menyukai sistem hukum keras dan kekuasaan yang dilakukan Taliban dari pada yang diterapkan pemerintah.

Kemiskinan yang parah, kurangnya kesempatan pekerjaan dan pemerintahan yang buruk atau tidak ada, semua hal ini membuat negara-negara Sahel yang berbatasan dengan Sahara menjadi tempat yang subur bagi berkembangnya kelompok jihadis.

Banyak orang bergabung, bukan karena alasan ideologi, tetapi hanya karena mereka menyaksikan ini adalah satu-satunya cara mengatasi kemiskinan.

Kewajiban agama

Perekrut al-Qaida, ISIS, Taliban dan lainnya sejak lama dapat menggunakan ketaatan pada agama untuk menarik anak muda laki-laki dan perempuan muda.

Ahli ekstremisme Dr Erin Saltman mengatakan kelompok ekstrem sering kali menyebarkan “pemikiran perjuangan, pengorbanan kepahlawanan dan kewajiban spiritual untuk menciptakan legitimasi dan berhubungan dangan orang-orang yang mungkin dapat direkrut”.

Perlu dicatat bahwa setelah al-Shabab melakukan serangan terhadap hotel Nairobi, kelompok tersebut mengaitkannya dengan keputusan Presiden Trump memindahkan kedutaan AS di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem, tempat ketiga paling suci bagi umat Islam setelah Mekkah dan Madinah.

Hak atas foto
Reuters

Image caption

Lebih dari 20 orang meninggal dunia dalam serangan di Nairobi tanggal 15 Januari 2019.

Yerusalem adalah tempat yang sangat dihormati bagi banyak orang di Timur Tengah dan al-Shabab kemungkinan berusaha menyebarkan daya tariknya ke luar Somalia.

Ideologi di balik “jihad dengan kekerasan” kemungkinan akan bertahan untuk sementara waktu, meskipun tidak didukung sebagian besar Muslim moderat di dunia.

Al-Qaida masih ada setelah meninggalnya Osama bin Laden dan masih memiliki perwakilan di Asia dan Afrika.

ISIS masih memiliki pengikut meskipun karena sekarang sudah tidak memiliki kehadiran fisik bagi kekhalifahannya, kelompok ini kemungkinan harus berjuang untuk merekrut dalam jumlah besar.

Di dunia, membatasi dan mengurangi “jihad dengan kekerasan” akan memerlukan upaya lebih dari sekedar intelijen dan kerja polisi yang baik.

Usaha ini akan memerlukan pemerintahan yang jauh lebih baik dan adil, menghilangkan hal-hal yang memicu orang melakukan kekerasan yang telah menghancurkan banyak aspek kehidupan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *