Manusia purba menyantap kepala gajah sebagai sumber gizi


gajah

Image caption

Bagaimana manusia purba memburu binatang besar untuk disantap?

Santapan manusia purba yang dianggap paling lezat adalah kepala berukuran raksasa daribinatang jenis gajah yang saat ini sudah punah.

Menurut penelitian baru, orang yang hidup pada zaman Paleolitikum, atau biasa dikenal dengan Zaman Batu, memburu gajah sebagai sumber makanan yang berharga.

Selain menyantap tubuhnya, mereka juga mengkonsumsi kepala besar binatang itu, termasuk dengan memakan otak, lidah, kelenjar dan bahkan tulang kepala dan rahangnya.

Penemuan itu menjelaskan mengapa manusia pada zaman batu mengangkut kepala gajah saat mereka pindah dari satu tempat ke tempat lain.

Sejauh mana manusia zaman Palaeolitik makan gajah masih hangat diperdebatkan.

Manusia purba sudah lama diketahui memburu dan makan binatang sebagai sumber protein dan lemak.

Hak atas foto
Pete Oxfordnaturepl.com

Image caption

Berat tengkorak gajah bisa mencapai 180 kg.

“Karnivora merupakan sasaran manusia dari zaman dulu sampai sekarang,” kata para peneliti dalam dokumen yang diterbitkan di jurnal Quaternary International.

Namun para ilmuwan mempertanyakan bagaimana gajah bisa disantap karena terlalu besar untuk diburu dan dibunuh.

Kepala gajah dibawa ke mana pun

Manusia purba sebelumnya diduga menyantap gajah bukan sebagai hasil buruan tapi binatang yang sudah mati karena umur atau karena predator lain.

Studi baru justru menunjukkan bahwa gajah diburu dan kepala mereka dianggap sebagai sumber penting kalori bagi manusia purba.

Hak atas foto
John Downernaturepl.com

Image caption

Lidah gajah juga termasuk yang dimakan.

Bahkan, manusia purba juga mau bersusah payah mengangkut kepala gajah itu kemana mereka pergi.

Aviad Agam dan Ran Barkay dari Universitas Tel Aviv, Israel mengkaji sejumlah situs arkeologi tempat kepala-kepala gajah ditemukan.

Situs ini termasuk yang dihuni manusia purba pada Zaman Kuno, sekitar 1,6 juta sampai 1,3 juta tahun lalu, tempat yang kini adalah Republik Djibouti di Afrika.

Selain itu juga ada situs berumur 800.000 tahun sampai 500.000 tahun di Israel dan situs berumur 150.000 sampai 13.000 tahun di Rusia dan Eropa.

Contohnya adalah Gesher Benot Ya’aqov, situs terbuka Plestocene di lembah Laut Mati, di mana para arkeolog menemukan kerangka kepiting, ikan, kijang dan kura-kura selain 154 gajah.

Kerangka gajah yang ditemukan termasuk tengkorak utuh, sejumlah gigi, gading, cranium dan tulang di seputar otak.

Sebagian tengkorak gajah yang ditemukan dipecah oleh manusia purba yang tinggal di sana.

Kerangka gajah jenis ini adalah gajah yang sudah punah Palaeoloxodon antiquus atau gajah dengan gading lurus.

Spesies gajah ini sangat dekat dengan gajah Asia yang ada sekarang ini, namun lebih besar.

Gajah tentunya juga merupakan mangsa terbesar yang diburu dan dimakan manusia purba.

Gajah gading lurus

Gajah gading lurus yang dulu ditemukan di Eropa dan Asia lima kali lebih besar dibandingkan binatang besar lain saat itu, hippopotamus.

Berat tengkorak dan tulang rahang gajah modern Afrika Loxodonta africana sekitar 180 kg sementara belalai mencapai 110 kg, kuping 44 kg dan lidah 14 kg. Sementara otak sekitar 5,6 kg dan secara total kepala gajah modern seberat 400 kg.

“Berat gajah Pleistocene yang sudah punah hampir dua kali lipat,” kata para ilmuwan.

Gajah merupakan “paket makanan yang ideal” bagi manusia purba, menurut mereka.

Hak atas foto
FunkMonkCC by SA 3.0

Image caption

Kerangka gajah bergading lurus.

Bukti lebih lanjut menunjukkan manusia purba secara aktif memburu kepala gajah dari gua Bolomor, di lembah Valldigna, di dekat tempat yang sekarang adalah Valencia, Spanyol.

Di dalam gua itu terdapat kerangka gajah kuno temrasuk tengkorak dan tulang kaki.

“Sulit sekali untuk mendaki gua itu. Namun di sana ditemukan tulang-tulang gajah dan bagian kepala,” tambah para ilmuwan.

Para ilmuwan juga meneliti seberapa banyak nutrisi yang terkandung di kepala gajah.

Hak atas foto
Charlie Summersnaturepl.com

Image caption

Gajah yang birahi.

Mereka juga meneliti bagaimana penduduk Afrika selama berabad-abad memburu dan memakan gajah.

Penelitian menunjukkan manusia purba memecah tengkorak dan tulang rahang gajah untuk mengambil lemak yang terkandung di sela-sela tulang. Lemak juga dapat diambil dari seputar mata dan dari organ yang hanya dimiliki gajah yang disebut kelenjar temporal, yang dikeluarkan gajah jantan saat birahi.

Para ilmuwan juga mengangkat bukti lain bahwa manusia purba juga mengangkut kepala mamoth.

Temuan soal kepala gajah sebagai sumber nutrisi ini juga merupakan bukti bahwa manusia purba bekerja sama dalam memburu karena diperlukan banyak orang untuk mengangkut binatang besar ke dalam gua.

“Bagian lain dari kepala, seperti lidah, kelenjar temporan, belalai, rahang dan tengkorak juga digunakan sebagai bagian penting dari santapan manusia purba,” kata para peneliti.

Artikel selengkapnya dalam bahasa Inggris:

The people who ate elephant heads, dan laporan

BBC Earth lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *