Loading...

Kenapa anak-anak tertarik menonton acara aneh yang tak menarik untuk orang dewasa?


Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Teletubbies mungkin adalah acara TV pertama yang dirancang khusus untuk anak berusia satu hingga dua tahun.

Teletubbies mungkin adalah acara TV pertama yang dirancang khusus untuk anak berusia satu hingga dua tahun, sementara dampak SpongeBob Squarepants tidak terlalu baik untuk para balita.

Kebanyakan dari kita punya acara TV favorit sejak kecil. Jika Anda adalah orangtua, mungkin ada acara kesukaan anak-anak yang Anda anggap aneh, atau bahkan menyeramkan.

Bagi banyak orang tua, salah satu acara itu adalah Moon and Me. Boneka-boneka dengan bentuk berbeda-beda bertualang dalam kegelapan malam, karena mereka hanya bisa hidup ketika bulan bersinar. Ada Pepi Nana, bawang merah muda bernama Pak Bawang, dan Colly Wobble si badut lembut.

Keponakan saya yang berusia 1,5 tahun tidak merasa itu aneh. Saat kami menonton, ia bergerak semakin dekat ke layar, tersenyum, bergumam, menunjuk, dan berkata “Wow”. Anak perempuan saya yang berusia delapan tahun menatap semua ini dengan heran.

Ada apa dengan acara TV pra-sekolah yang begitu menawan bagi pemirsa cilik, tetapi aneh bagi orang dewasa?

Sebagai seorang ibu, saya khawatir, apakah menonton televisi di usia muda baik untuk akan atau malah menghambat perkembangan anak-anak saya? Fakta bahwa saya tidak mengerti apa menariknya acara itu, sama sekali tidak membantu.

Tapi keanehan, ternyata, bisa menjadi hal yang baik.

Anak kecil memproses informasi secara berbeda dari orang dewasa. Apa yang aneh bagi kita seringkali sangat menarik bagi mereka.

Pemahaman yang lebih baik soal perbedaan-perbedaan ini dapat membantu menciptakan program televisi yang lebih sehat, lebih menarik, meningkatkan pemahaman anak-anak tentang dunia, sambil tetap menghibur mereka.

Pemahaman itu juga bisa membantu kita sebagai orang tua untuk membuat keputusan lebih baik mengenai jenis acara televisi untuk anak-anak kita.

Moon and Me, ternyata, adalah hasil penelitian, oleh kolaborasi antara salah satu pencipta acara TV Teletubbies, Andrew Davenport, dan Dylan Yamada-Rice. Dylan adalah seorang peneliti yang spesialisasinya adalah pendidikan anak-anak dan mendongeng, untuk mempelajari bagaimana anak-anak berinteraksi dengan rumah mainan.

Kolaborasi langsung antara akademisi dan TV anak-anak seperti itu bukanlah hal baru. Sesame Street (sudah 50 tahun pada 2019) mempekerjakan psikolog perkembangan dan ahli pendidikan sebagai bagian dari tim produksi sejak awal.

Salah satu penggagasnya, Joan Ganz Cooney, berpikir bahwa televisi mungkin bisa digunakan sebagai alat pendidikan untuk menyiapkan anak-anak ke TK.

Pada Januari 1970, hanya beberapa bulan setelah pertama kali ditayangkan, kira-kira sepertiga dari anak usia 2-5 tahun di AS rutin menonton. Setiap episodenya disaksikan lebih dari lima juta anak. Dan meskipun menghibur, setiap episode direncanakan dengan tujuan pembelajaran tertentu.

“Misi Sesame adalah untuk membantu anak-anak tumbuh lebih pintar, lebih kuat dan lebih baik hati,” kata Rosemarie Truglio, seorang psikolog perkembangan yang adalah wakil presiden kurikulum dan konten di Sesame Workshop.

Hak atas foto
Getty Images

Berhasilkah? Pada akhir 1960-an, sebagian besar rumah tangga AS memiliki televisi, tetapi apakah mereka dapat menonton Sesame Street bergantung pada tempat mereka tinggal. Beberapa daerah menyiarkan Sesame di saluran Very High Frequency (VHF), di tempat lain di Ultra High Frequency (UHF). Sinyal UHF lebih lemah, dan beberapa perangkat TV tidak bisa menerimanya, yang berarti hanya sekitar dua pertiga orang Amerika memiliki akses ke Sesame Street.

“Hanya dengan menyaksikan dan menontonnya secara rutin saja dapat meningkatkan kinerja sekolah anak-anak,” kata Phillip Levine, seorang ekonom di Wellesley College di Massachusetts, mengutip hasil studi yang dia terbitkan bersama Melissa Kearney di University of Maryland.

Mereka menemukan bahwa anak-anak yang menonton Sesame Street lebih cenderung berada di jalur akademis, daripada mereka yang tidak. Yang terpenting, akses ke sinyal VHF tidak bergantung pada kekayaan atau pendidikan orang tua, dua faktor yang mungkin memengaruhi kinerja anak di sekolah nantinya.

Faktanya, penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam komunitas yang “kurang beruntung secara ekonomi” mendapat paling banyak manfaat dari menonton Sesame Street.

Tetapi tidak semua televisi peduli dengan pendidikan anak-anak.

Pada akhir 2000-an, Angeline Lillard, seorang psikolog perkembangan di University of Virginia di Charlottesville, mengamati bagaimana perilaku anak-anak mungkin dipengaruhi oleh perilaku para tokoh televisi.

Timnya telah menonton banyak episode SpongeBob SquarePants, kartun Amerika tentang spons laut berwarna kuning yang hidup dalam nanas di dasar laut. Pertunjukan ini eklektik, dan membuatnya digemari anak-anak dan orang dewasa.

“Kami menonton banyak SpongeBob dalam rapat lab, dan saya merasa saya tidak bisa bekerja setelahnya,” kata Lillard. “Saya berpikir: ‘Jika itu terjadi pada saya, saya ingin tahu apa yang akan terjadi pada anak berusia empat tahun. ‘

Ini mendorongnya untuk memulai studi baru, yang melihat dampak menonton televisi pada fungsi eksekutif anak-anak. Fungsi ini adalah serangkaian kemampuan kognitif yang mencakup memusatkan perhatian, perencanaan, menunda kepuasan dan mengelola emosi.

Dibandingkan dengan menonton kartun anak-anak yang berbeda, berjudul Caillou (tentang kehidupan sehari-hari anak berusia empat tahun), atau hanya mencoret-coret kertas dengan krayon, menonton SpongeBob mengganggu kinerja anak berusia empat tahun pada berbagai tes, termasuk membaca daftar angka secara terbalik, dan belajar menyentuh jari-jari kaki ketika diminta untuk menyentuh kepala mereka.

Pada saat itu, Lillard mengira mungkin kecepatan penyuntingan yang harus disalahkan. Dalam klip SpongeBob yang mereka gunakan, adegan berubah kira-kira setiap 11 detik, sedangkan di Caillou setiap 34 detik.

Empat tahun kemudian, dia menerbitkan hasil penelitian lanjutan yang lebih menyeluruh. Rupanya bukan kecepatan penyuntingan yang bermasalah, tapi soal banyaknya konten fantastis yang menantang hukum alam.

“Sejak sangat awal dalam kehidupan, jika tidak secara bawaan, bayi memiliki pemahaman umum, bahwa kalau sesuatu jatuh, atau didorong, jatuhnya pasti ke bawah,” kata Lillard.

Tapi yang terjadi adalah mobil terbang di udara, kemudian melayang di luar angkasa, lalu tiba-tiba mereka bermain ski, berada di bawah laut, mereka menuangkan makanan kucing dari kotak dan yang keluar jauh lebih banyak dari yang mungkin masuk kotak… Rentetan kejadian itu tidak mungkin terjadi di dunia nyata.

“Otak kita tidak siap untuk memproses semua itu,” kata Lillard. “Saya menduga korteks prefrontal bekerja keras untuk memahami semua itu dan kemudian POOF! Tidak bisa. Itu tidak realistis. “

Lillard menekankan bahwa mereka hanya mengamati efek jangka pendek. Tidak ada bukti langsung yang menunjukkan bahwa menonton konten yang sangat fantastik akan membahayakan anak Anda dalam jangka panjang. Tapi, anak-anak hingga usia enam tahun dapat terpengaruh (mereka belum mempelajari anak-anak yang lebih besar).

Dan itu bukan hanya SpongeBob.

Hak atas foto
Getty Images

Martha Speaks, program tentang seekor anjing yang memperoleh kemampuan untuk berbicara bahasa Inggris setelah minum sup alfabet, yang bermaksud mengajarkan kosa kata anak-anak, juga memiliki efek yang sama. Juga Kartun Little Einstein, tentang empat anak pra-sekolah yang membantu peri mengembalikan Cahaya Utara ke langit. Bahkan program pendidikan yang bermaksud baik dapat menjadi bumerang jika isinya tidak sesuai usia.

Serangkaian foto muncul di layar: dua bebek kayu kuning dengan latar belakang putih; dua kura-kura berenang di bawah air; dua anak singa di sabana Afrika. Musik klasik yang menenangkan diputar di latar belakang.

Ini adalah klip pendek dari Baby Einstein: Numbers Nursery, yang bertujuan untuk memperkenalkan bayi pada angka satu hingga lima. Saya menontonnya dengan Tim Smith, seorang psikolog perkembangan di Birkbeck Babylab di London.

Smith mengatakan kepada saya, rekannya menunjukkan video ini kepada anak usia enam bulan dan 12 bulan. Smith melacak arah pandangan mereka untuk mengukur minat pada gambar dan apakah mereka melihat kedua objek, yang jelas penting jika Anda mencoba untuk mengajarkan konsep “dua”. Setelah menonton klip, mereka akan bertanya kepada orang tua tentang pendapat mereka.

Orang tua akan berkata, “Saya sangat suka adegan anak singa dan kura-kura, itu sangat lucu. Anak saya juga suka.”

Tetapi para peneliti memperhatikan bahwa anak-anak tampak tidak tertarik pada adegan-adegan ini.

Smith berpendapat ini karena sistem visual balita yang belum matang, berusaha memperhatikan makhluk dari latar belakang. Dia menunjukkan kepada saya urutan kedua yang dikembangkan oleh kolega lain, yang bekerja dengan perusahaan televisi bernama Abbey Home Media.

Gambar 2D seekor domba diturunkan ke layar hijau polos sementara narator mengatakan: “Ini domba.” Hal yang sama terjadi dua kali lagi.

Kemudian seluruh urutan berulang lagi, tapi kali ini narator mengatakan “Satu, dua, tiga,” ketika masing-masing domba mendarat. Itu membosankan. Berulang-ulang. Tetapi ketika bayi yang tadi juga menyaksikan Baby Einstein melihatnya, mata mereka mengikuti kedatangan setiap domba, menunjukkan bahwa mereka memperhatikan dan mengikutinya.

Sebuah kenangan membanjiri saya: duduk di sofa, mencoba membuat anak-anak saya menonton film dokumenter BBC Blue Planet. Saat itu rasanya santai dan mendidik. Tentu lumba-lumba dan beruang kutub yang nyata jauh lebih baik daripada pengulangan Peppa Pig yang tak ada habisnya? Tetapi mereka tampaknya sama sekali tidak tertarik. Sekarang saya tahu kenapa.

Smith menunjukkan video yang berbeda. Seorang gadis berusia tiga tahun dengan kardigan bermotif merah muda duduk di pangkuan ibunya menonton TV. Jendela lain menunjukkan apa yang dia lihat: Waybuloo, serial TV anak-anak Inggris-Kanada, menampilkan empat karakter animasi CGI dengan kepala dan mata besar yang tidak wajar, melayang di sekitar daerah fantastik bernama Nara.

Gadis itu terhubung ke alat pelacak mata, dan, ketika “Pipa” imut aneh melayang-layang, matanya justru melacak gerakan mereka, membenarkan bahwa makhluk ini, bukan gunung atau pohon di latar belakang, yang menarik perhatiannya.

Smith memberi tahu saya bahwa Waybuloo sangat efektif sehingga Babylab di seluruh dunia sekarang menggunakan klipnya, atau kartun anak-anak yang serupa, setiap kali mereka perlu menarik perhatian anak pada apa yang mereka ingin mereka lihat di layar.

Layar TV berkedip. Sekarang gadis kecil itu menonton film yang terdiri dari tiga perempuan yang ditempatkan dalam barisan, masing-masing memegang bola berwarna cerah.

Smith menunjukkan gerakan mata gadis itu. Pertama-tama, dia melihat masing-masing wajah mereka secara bergantian. Ketika para perempuan mulai menari di tempat, perhatiannya terbagi di antara mereka. Selanjutnya, para perempuan bergiliran melemparkan bola mereka ke udara atau mengguncangnya dari sisi ke sisi. Perhatian gadis itu tertuju pada bola-bola cerah itu.

Saya menonton cuplikan sebelumnya dari gadis yang sama ketika dia baru berusia satu tahun. Mata cokelatnya yang besar menunjukkan tatapan yang lebih lamban, kurang terkoordinasi, kurang tertarik ke wajah dan lebih ke arah gerakan apa pun di layar, dan ke bola-bola berwarna cerah.

Ini perbedaan yang halus, tetapi jika Anda ingin menarik perhatian anak kecil terhadap objek atau karakter, Anda harus mengarahkan semua informasi visual dalam adegan ke arah itu, atau mereka akan kesulitan untuk mengikuti cerita.

Itulah sebabnya acara TV anak-anak memiliki wajah karikatur yang besar, seringkali dengan hal-hal yang menjulur dari kepala mereka. “Jadi ketika mereka menggerakkan kepala, ada banyak gerakan periferal,” kata Smith. “Ada juga banyak pencahayaan dan kontras warna yang memandu perhatian anak-anak. Anda membantu mereka menemukan hal yang mereka minati. “

Image caption

Karakter-karakter dari In the Night Garden ini dimaksudkan untuk memiliki keasyikan dan minat yang sama dengan para penonton muda.

Pada tahun 2014, ia menerbitkan sebuah penelitian yang menunjukkan seberapa dekat fitur-fitur yang menarik perhatian, seperti warna, kecerahan dan gerakan, cocok dengan lokasi karakter utama dari acara TV anak-anak, dibandingkan dengan enam acara dewasa.

“Kami ingin melihat apakah produsen pertunjukan anak-anak ini, melalui coba-coba, mengembangkan teknik yang secara efektif membantu bayi untuk memahami dan memproses informasi,” kata Smith.

Ternyata mereka punya. Menggabungkan aksi memungkinkan sistem perhatian dan visual bayi yang lamban untuk bisa mengikuti. Dan mata karakter cenderung ditandai dengan sangat jelas, garis-garis wajah mereka sering kali berlatar belakang putih, atau berlatar belakang seragam, menjadikannya lebih menonjol.

Ini berarti bahwa bahkan dengan sistem visual yang sangat primitif, dengan cepat anak masih bisa mengidentifikasi karakter bicara utama. Ini memudahkan anak-anak mengikuti cerita dan berpotensi belajar darinya.

Andrew Davenport, produser Teletubbies dan Moon and Me, belajar terapi wicara di universitas, tetapi hasratnya yang sebenarnya adalah drama.

Setelah lulus, ia dan seorang teman mendirikan perusahaan produksi teater, dan melalui inilah ia mendapatkan pekerjaan sebagai penulis dan dalang boneka di acara Produksi Ragdoll yang disebut Tots TV.

Acara itu, yang menampilkan tiga boneka yang berteman, keledai peliharaan mereka dan seekor anjing nakal, memenangkan dua penghargaan BAFTA, disaksikan oleh pemirsa di Inggris, AS, Amerika Tengah dan Selatan. Tapi itu tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang dilakukan Davenport selanjutnya, Teletubbies.

Teletubbies adalah TV yang setara dengan film laris Hollywood, yang mengudara di lebih dari 120 wilayah dalam 45 bahasa yang berbeda.

Tinky Winky, Dipsy, Laa-Laa dan Po terinspirasi oleh perjalanan ke Smithsonian Institution di Washington bersama Anne Wood, pendiri dan direktur kreatif di Ragdoll. Mereka berkeliaran di pameran ruang angkasa dan Davenport berkata, “Aneh tidak sih, mereka menerapkan semua teknologi ini ke dalam pakaian antariksa, dan ketika astronaut berjalan di dalamnya, mereka lebih mirip seperti bayi dalam popok.”

Teletubbies dikandung sebagai bayi teknologi, dengan latar di superdome teknologi.

Bahkan kincir angin di atas bukit adalah perkenalan dari teknologi pertama yang ditemui anak-anak: kincir di kereta bayi mereka.

Tubuh Teletubbies dicat warna-warna neon yang cerah, karena itu sepertinya sesuai dengan tema teknologi, seperti halnya menempatkan layar TV di perut mereka, TV yang menunjukkan video anak-anak melakukan kegiatan sederhana di dunia nyata.

“Bagi saya, Teletubbies adalah tahap awal kehidupan ketika anak mulai memahami tubuh mereka sendiri dan fisik mereka sendiri: berjalan, berbicara, berlari, jatuh, semua hal yang Teletubbies lakukan,” kata Davenport.

Set bukit hijau dirancang untuk menonjolkan kedalaman ruang fisik yang mereka huni, dan banyak dari pertunjukan hanya melibatkan Teletubbies datang dan pergi dan muncul naik turun, bermain dengan konsep-konsep fisik.

Namun, orang dewasa tidak memahaminya. Acara itu dituduh “membodohi” TV anak-anak dan dikritik karena pengulangan yang konstan, plot yang buruk dan kurangnya rasa menempati. Tetapi justru itulah intinya.

Teletubbies mungkin adalah acara TV pertama yang dirancang khusus untuk anak berusia satu hingga dua tahun. Seorang eksekutif TV Norwegia menggambarkannya sebagai “program anak-anak yang paling berorientasi pasar yang pernah saya lihat”.

Davenport dan Wood telah mempelajari padanan visual dari bahasa bayi. Jika Teletubbies aneh, itu karena bayi juga aneh, secara visual dan perkembangan.

Untuk Wood, desain acara seperti Teletubbies adalah intuisi yang dikombinasikan dengan bertahun-tahun uji coba.

“Saya pikir satu-satunya keterampilan yang saya miliki, jika saya punya, adalah bisa menonton layar seperti anak tiga tahun. Ini tentang mengetahui kapan harus berhenti, berapa lama berhenti, bagaimana membuatnya, bagaimana menggunakan antisipasi. “

Meskipun anak-anak hidup di dunia yang sama dengan kita, mereka melihatnya secara berbeda. Seorang gadis kecil dengan adik laki-laki mungkin mengandaikan bahwa semua bayi dilahirkan sebagai anak laki-laki, dan kemudian berubah menjadi perempuan, misalnya.

Atau bahwa rumah-rumah jatuh ke bumi dan kemudian berjalan ke posisinya, menggunakan kaki mereka. “Anda dapat melihat bagaimana anak-anak kecil akan sering mengatakan hal-hal yang menurut kita lucu karena persepsi mereka X adalah kasusnya, padahal sebenarnya Y adalah masalahnya. Perbedaan itu perlu dihormati, tetapi sama-sama bisa menjadi konten, “kata Wood.

Seringkali, programnya dirancang sebagai percakapan antara televisi dan anak-anak yang menontonnya.

“Ketika orang-orang keberatan dengan Teletubbies, kami mengatakan: “Teletubbies mengerti bayi, dan bayi mengerti Teletubbies. Jika Anda menonton Teletubbies tanpa anak-anak, Anda hanya memahami setengah percakapan.”

Dia menunjukkan awal acara, ketika kapal keluar dari bingkai, kembali ke dalam, lalu keluar dari bingkai lagi.

“Urutan itu sebenarnya bermain cilukba dengan anak yang sangat muda: Mana perahunya? Ini dia, kembali lagi.” Survei baru-baru ini menemukan bahwa permainan cilukba adalah cara paling pasti untuk membuat bayi tertawa.

Setelah kesuksesan Teletubbies, Davenport dan Wood pindah ke In the Night Garden, yang Davenport gambarkan sebagai “lagu anak kontemporer” yang ditujukan untuk anak berusia dua hingga tiga tahun.

“Ini tahap di mana anak telah terbiasa dengan hal-hal fisik di dunia dan sekarang terpesona dengan gagasan abstrak. Ini waktunya untuk lagu berima, permainan bahasa, permainan simbolik, dan bermain dengan mainan.”

Setiap karakter dirancang untuk berdiri sendiri, seperti Humpty Dumpty atau The Old Woman yang Tinggal di Sepatu yang ada dalam buku sajak anak-anak.

Karakter utamanya, Iggle Piggle, mewakili semacam “setiap anak”, yang melompat-lompat untuk mencoba memahami semuanya.

Davenport mengatakan dia terinspirasi oleh seorang gadis kecil yang biasa mengatakan “Iggle Piggle Iggle Piggle Iggle Piggle” setiap kali dia merasa bersemangat.

Ada juga Makka Pakka, makhluk krem bertubuh bulat yang gemar mengumpulkan tumpukan batu dan mencuci benda dengan spons.

Davenport terpesona oleh gagasan untuk memikat audiensnya melalui keasyikan dan minat mereka sendiri.

Mengoleksi batu adalah hobi masa kecilnya, sementara kegemaran Makka Pakka mencuci dengan obsesif bukan tentang kebersihan tetapi soal mengajari anak-anak tentang kegiatan yang sulit mereka lakukan: mencuci muka dan bersiap-siap untuk tidur.

“Idenya adalah bahwa Anda dapat membuat tindakan kecil, rutin, sajak atau lagu yang dapat dilakukan oleh orang tua dan anak-anak secara bersama-sama, agar lebih mudah melewati sesuatu yang mungkin rumit atau sulit,” katanya.

Saya ingat adegan pembukaan In the Night Garden, ada lagu tentang perahu kecil yang sekecil tangamu, berputar-putar di laut, sembari orang dewasa menelusuri lingkaran di telapak tangan anak.

Itu adalah cara yang tak pernah gagal untuk menidurkan anak saya. Ketika saya memberitahunya, Davenport nampak benar-benar tersentuh. “Ketika hal-hal ini berhasil, mereka menjadi bagian penting dari hubungan antara orang tua dan anak”.

Davenport melihat putra baptisnya menggunakan lagu Makka Pakka sebagai cara untuk mencuci rambut dan wajahnya. “Ketika Anda menemukan sesuatu yang berguna, itu jelas sangat memuaskan dan bermanfaat,” katanya.

Inilah yang membawanya untuk mendekati Universitas Sheffield selama pengembangan Moon and Me. Dia membaca sebuah studi di mana dua kelompok anak diberi pelajaran, antara materi standar atau beberapa yang melibatkan Teletubbies.

Mereka yang menggunakan materi Teletubbies tampaknya jauh lebih terlibat daripada ketika berada dalam pelajaran normal mereka. Dalam satu kasus, seorang anak yang hampir tak pernah bicara dan jarang ikut serta dalam kegiatan kelas, mengumpulkan tugas yang sudah selesai dan meminta tugas yang lain.

“Jika Anda mendekati anak-anak melalui budaya mereka sendiri, mereka akan jauh lebih termotivasi dan jauh lebih tertarik daripada ketika Anda memaksakan budaya Anda pada mereka,” kata Davenport.

Setelah membaca tentang pekerjaan dengan Teletubbies, dan tertarik dengan gagasan budaya anak, ia mendekati para peneliti untuk melakukan penelitian demi mempelajari lebih lanjut tentang bagaimana anak-anak masa kini bermain dengan rumah mainan.

Hasilnya adalah kolaborasinya dengan Dylan Yamada-Rice, sekarang di Royal College of Art di London.

Moon and Me ditujukan untuk anak pada rentang usia yang lebih luas daripada Teletubbies atau Night Garden. Ini adalah kisah tentang rumah mainan yang mulai hidup di malam hari, seperti yang populer di tahun 1940-an dan 50-an.

“Masih ada asumsi umum bahwa sesuatu dapat dibuat untuk orang dewasa dan dibuat bodoh untuk anak-anak tanpa melihat secara khusus pada kebutuhan audiens muda itu,” katanya.

Tetapi jika Anda ingin mereka belajar sesuatu dari itu, Anda perlu menemukan cara untuk melibatkan anak-anak.

“Jika Anda tidak percaya tentang kedalaman karakter dan bahwa satu karakter sangat peduli dengan karakter lain, maka Anda tidak akan menjaga minat anak dengan efektif. Dan jika Anda tidak percaya pada karakter itu, maka Anda tidak akan peduli bahkan jika mereka menulis surat ke bulan. “

Yamada-Rice menggabungkan dua rumah mainan besar dari pusat perbelanjaan John Lewis, dan memasang kamera kecil di dalamnya. Kameranya tidak menunjuk pada anak-anak tetapi pada mainan di dalam rumah.

Mereka kemudian mengumpulkan sekelompok anak berusia satu hingga lima tahun dari latar belakang budaya yang berbeda untuk bermain di situ. Dia merekam bagaimana mainan itu dipindahkan, apa yang anak-anak katakan ketika mereka bermain dengan karakter-karakternya, dan dengan suara seperti apa.

Satu hal yang mereka perhatikan adalah keasyikan anak-anak dengan transisi: naik turun tangga; masuk dan keluar melalui pintu depan; ke tempat tidur untuk tidur dan kembali lagi; dan pentingnya duduk untuk minum teh.

Pengamatan lain adalah bagaimana anak-anak punya beberapa skenario di lantai rumah yang berbeda.

“Mempertahankan mereka semua terasa seperti piring yang berputar,” kata Davenport.

“Jadi, adegan yang sering berulang di Moon and Me adalah seluruh rumah dengan ketiga lantai tersorot, sehingga Anda dapat melihat karakter yang berada di lantai dan tangga yang berbeda”.

Saya duduk bersama Tim Smith dan menonton sebuah episode.

Ada narator yang meninabobokan berbagai karakter ke tempat tidur di beberapa lantai rumah.

Ada Moon Baby membunyikan bel pintu depan dan Pepi Nana membiarkannya masuk. Ada adegan Pepi Nana berjalan menuruni setiap langkah tangga.

Smith menunjukkan cahaya bulan yang menyinari wajah Pepi Nana saat dia duduk di tempat tidur; penggunaan suara, seperti bel denting Colly Wobble, untuk menarik perhatian pemirsa dan mendorong mereka untuk mencarinya.

Narator dewasa bertanya “Ada apa selanjutnya?” saat Pak Bawang menggelar meja, dan mengisyaratkan gerakan di dekat cangkir. Semua ini, katanya, membantu menarik perhatian anak dan membantu mereka untuk mengikuti cerita.

Ada pelajaran yang diam-diam dijalin ke dalam Moon and Me, seperti seni menyusun surat, dan menceritakan kisah: prinsip-prinsip inti pendidikan di tahun awal kehidupan.

Pepi Nana memanjat ke bak mandi, yang berguling, dan kemudian muncul lagi, yang membantu mengajarkan tentang objek permanen.

Davenport memberi tahu saya bahwa acaranya tidak dimaksudkan untuk “mendidik”.

Audiensnya, katanya, ada pada usia pra-pendidikan. Dia berusaha keras untuk memberikan apa yang dia gambarkan sebagai “latihan pikiran” yang tidak dapat ditawar-tawar”.

Inilah aturan umumnya: sebelum usia dua tahun, anak-anak tidak akan mendapatkan banyak hal dari TV, kecuali orang dewasa duduk bersama mereka, membantu mereka untuk memahaminya.

“Cara kami membuat televisi untuk anak-anak adalah dengan menciptakan cerita melalui narasi yang terbentang seiring waktu, dengan karakter yang berinteraksi,” kata Heather Kirkorian, seorang psikolog perkembangan di University of Wisconsin di Madison.

“Format narasi tradisional semacam itu mungkin tidak akan bekerja dengan baik untuk anak di bawah dua tahun.”

Jika mereka terlalu banyak menonton TV, ini bahkan dapat merusak perkembangan mereka dan menghalangi mereka berinteraksi dengan dunia nyata.

Sejak usia dua atau tiga hingga mereka lima tahun, anak-anak dapat mengikuti plot sederhana, tetapi bukan pelajaran moral yang rumit. Misalnya, si perisak mendapat balasannya di akhir cerita.

“Anak-anak pada usia itu tidak bisa mengerti bahwa, ‘Oh, anak ini pengganggu, dia sangat jahat, dan saya tidak ingin menjadi seperti dia karena saya belajar bahwa itu tidak baik,” kata Polly Conway, editor TV senior di Common Sense Media, sebuah organisasi Amerika yang mencoba membantu orang tua menavigasi labirin yang rumit ini.

Sebaliknya, anak-anak kecil ini justru mungkin berusaha meniru perilaku buruk. “Apa yang perlu mereka lihat adalah seseorang seperti Daniel Tiger [karakter kartun Amerika-Kanada populer] yang baru saja melewati hari ini dan belajar mengikat tali sepatu, mungkin menyapa kakeknya.”

Anak-anak usia sekolah dapat memahami plot yang lebih kompleks dan mengerti pelajaran moral.

“Tentu saja, kelompok usia delapan hingga 12 tahun dapat melihat perilaku negatif itu dan memahami bahwa pesannya adalah ‘Jangan lakukan perilaku negatif ini’,” kata Kirkorian.

Namun, mereka mungkin masih kesulitan memahami lompatan dalam waktu, seperti kilas balik. Faktanya, baru pada usia 12 tahun anak-anak mulai memiliki pemahaman seperti orang dewasa tentang apa yang mereka lihat di layar.

Penelitiannya menunjukkan bahwa balita bisa mendapat banyak manfaat dari aplikasi interaktif sederhana, seperti gim atau bahkan obrolan video, daripada dari acara TV.

“Semua konten televisi mengajarkan sesuatu. Pertanyaannya adalah apa yang diajarkannya?” demikian Joan Ganz Cooney, salah satu pencipta Sesame Street, biasa berkata.

Banyak konten yang masih menggambarkan stereotip yang tidak membantu tentang, katakanlah, apa yang bisa dilakukan anak perempuan dan laki-laki, atau menampilkan kekerasan.

“Ini sangat berbeda dari otak orang dewasa di mana Anda dapat mengatakan, baiklah, ini hanya komedi dan ini menyenangkan,” kata Rosemarie Truglio dari Sesame Foundation.

Truglio mengatakan cara terbaik bagi anak-anak untuk menonton program (program apa pun) adalah bersama pengasuh.

Dengan begitu, orang dewasa dapat memperkuat pesan-pesan pendidikan dari perangkat TV. Menonton bersama anak-anak yang lebih besar juga bisa bermanfaat, karena jika Anda melihat mereka menikmati sesuatu dengan moral atau stereotip yang meragukan, maka Anda dapat membuka diskusi tentang hal itu.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa bentuk standar yang berfokus pada orang dewasa akan menyebabkan transfer pengetahuan yang sangat buruk ke dunia nyata.

Tetapi Anda dapat mengatasinya, baik ketika acara itu melibatkan anak-anak kecil, misalnya dengan mengajukan pertanyaan pada anak. Atau, yang lebih penting, dengan ditemani orang dewasa.

Anak-anak dapat sangat terlibat dan aktif secara kognitif, tetapi perhatian mereka selalu terbatas, kata Smith. Dia menyarankan sesekali mengambil jeda, memberi anak-anak waktu untuk terlibat dan mendiskusikan apa yang mereka saksikan.

Sebagai ibu dari dua anak, semua ini pada prinsipnya terdengar bagus. Tetapi kadang-kadang kita hanya menginginkan kedamaian dan ketenangan.

Terkadang ada banyak hal untuk dilakukan. Terkadang kita sudah bermain dengan mereka selama tiga jam dan perlu istirahat.

Ketika saya masih muda, TV anak-anak hanya tersedia selama beberapa jam sehari. Kemudian datanglah Nickelodeon dan Disney Channel. Sekarang YouTube dan Netflix kapan saja.

Saya yakin bahwa kadang-kadang mempekerjakan Iggle Piggle atau Moon Baby tidak akan berbahaya.

Tapi saya juga jadi mengerti, bahwa saya tidak harus selalu menjaga jarak ketika TV atau iPad dihidupkan.

Karena dengan sedikit usaha dari saya, tontonan bisa menjadi sesuatu yang lebih baik: dunia aneh yang bisa kita jelajahi bersama.

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris dengan judul Why children find weird television so mesmerising pada laman BBC Future.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *