Loading...

Joker: Pembunuh keji hingga korban perundungan, siapa yang pantas perankan musuh Batman ini?


Hak atas foto
WARNER BROS

Sejak 1940, penjahat ini mengambil beragam wujud. Saat film Joker terbaru dirilis ke bioskop. Nicholas Barber menilik kembali bagaimana penjelmaan sosok ini di setiap era.

Batman mempunyai sejumlah musuh dalam petualangan perdananya sebagai sosok pahlawan dalam komik, dari Doctor Death, The Monk, hingga Profesor Hugo Strange.

Namun baru pada tahun kedua pertempurannya melawan tindak kriminal, yaitu pada 1940, Batman menemukan musuh yang sama pintar, tangguh, dan menakutkan seperti dirinya: Joker.

Pencipta tokoh antagonis itu, Bob Kane, Bill Finger dan Jerry Robinson, memberi senyum permanen bagi Joker dari sosok Conrad Veidt dalam film adaptasi novel karangan Victor Hugo yang berjudul The Man Who Laughs (1928).

Kane, Finger, dan Robinson menambahkan kulit putih, rambut hijau, dan jas ungu untuk melengkapi citra ikonik Joker.

Hampir 80 tahun setelahnya, citra itu masih bertahan. Namun nama asli karakter itu, kisah pribadi, dan motivasi di balik tindak-tanduknya terus berkembang.

Sosok antagonis itu kini diperankan Joaquin Phoenix dalam film anyar yang meraih penghargaan sebelum tayang, Joker. Sosok itu tidak memliki kesamaan dengan citra dirinya delapan dekade lalu.

Kemampuan beradaptasi dengan zaman dan tetap mudah dikenal membuatnya menjadi salah satu penjahat yang paling abadi dan paling dicintai dalam sejarah budaya populer.

Berikut adalah beberapa catatan paling penting Joker.

Hak atas foto
Getty Images

Harlequin si pembenci (1940)

Ketika Batman melompat dari lembaran Detective Comics pada tahun 1939, genre superhero masih dalam tahap perkembangan. Petualangan awal kisahnya adalah campuran yang menarik antara cerita penyelidik sinis dan dan horor gothic.

Perwujudan dari campuran ini adalah Joker.

Antara Profesor Moriarty dari kisah Sherlock Holmes dan cerita Phantom of the Opera, Joker adalah penjahat licik yang kejam.

Ia menyela siaran radio untuk mengumumkan orang yang akan ia bunuh dan permata yang akan ia curi.

Joker adalah monster mengerikan yang mengintai dari laboratorium tersembunyi di bawah pemakaman.

Yang paling mencolok dari versi aslinya, jika ditilik dari sudut pandang kekinian, adalah betapa jahatnya Joker. Dia tidak tertawa, dia tidak bermain trik, dia bahkan tidak bercanda.

Joker mendapatkan nama alias dari wajahnya yang cacat dan dia menggunakan racunnya untuk menampakkan wajah itu kepada orang lain.

“Perlahan-lahan otot wajah akan menarik mulut orang mati, menjadikannya seperti sebuah senyum yang mengerikan”. Menjijikkan.

Hak atas foto
NurPhoto/Getty Images

Pangeran badut dunia kriminal (1966)

Setelah penampilan awalnya, sosok Joker melunak dari pembunuh berdarah dingin menjadi orang bodoh yang senang berkelakar, yang menenteng alat kejut dan bunga kancing yang menyembur.

Karakter yang ramah keluarga ini diabadikan pada tahun 1966 oleh Cesar Romero dalam serial TV Batman yang tayang di saluran ABC, dibintangi oleh Adam West sebagai Caped Crusader.

Narasi dalam komik 1940 menggambarkan Joker memiliki ‘senyum tanpa kegembiraan’. Namun Romero Joker justru menampilkan kegembiraan.

Sebagai seorang penjahat pantomim yang terbahak-bahak, Joker benar-benar menikmati keanehan dan permainan kata-katanya yang klise.

Di tahun 1960-an yang merupakan era revolusi kultural yang mengagungkan hedonisme, Joker memiliki selera seperti Austin Powers untuk dekorasi interior yang asyik dan wanita muda yang berpakaian apik.

Sosok itu meraup popularitas fenomenal sehingga Joker yang tampak bersemangat itu menjadi interpretasi yang tak bisa diganggu gugat bagi jutaan penggemarnya.

Ini mengesankan, mengingat Romero memilih mengoleskan riasan putih di atas kumis Joker, alih-alih mencukurnya.

Hak atas foto
AFP

Pembunuh yang sinting (1986)

Serial televisi Batman dibatalkan tahun 1968. Sejak saat itu, Batman dan Joker kembali ke akar mengerikan mereka, sebelum makin kelam pada akhir 1980-an dalam komik dan novel grafis yang mengganggu seperti The Killing Joke, Arkham Asylum dan A Death in the Family.

Perubahan besar terjadi dalam The Dark Knight Returns (1986), mahakarya empat edisi yang ditulis dan digambar Frank Miller.

Para pembaca komik ingin lebih banyak karakter bengis kala itu. Punisher yang brutal dan Wolverine yang berpisau di setiap buku jarinya adalah favorit.

Miller menyenangkan para pembacanya dengan mengubah Batman menjadi sosok pematah tulang yang sadis. Sementara Joker dijadikannya pembunuh yang kejam dan sinting.

Setelah bertahun-tahun nyaris sakit jiwa dalam cerita Arkham Asylum, Joker tampil dalam acara televisi dan secara santai berkata, “Saya akan membunuh semua orang di ruangan ini”.

Joker itu diperankan aktor Cesar Romero. Namun Anda dapat melihat tiruan adegan itu dalam film Joker terbaru.

Miller juga menekankan ketertarikan sesama jenis dalam perselisihan antara pria berlipstik merah dan pria lain yang mengenakan celana ketat dan jubah.

Joker memanggil Batman dengan sebutan ‘darling’ alias sayang dan ‘my sweet’ yang berarti manisku. Sebutan itu mengungkap hubungan cinta-benci di antara mereka.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Penampilan Joker saat diperankan Jack Nicholson.

Sang bandit (1989)

Kesuksesan reinkarnasi genre superhero melalui The Dark Knight dan The Killing Joke melahirkan film pertama Batman yang disutradarai Tim Burton.

Dalam film itu, Batman yang muram yang diperankan Michael Keaton dibayang-bayangi Joker yang dimainkan Jack Nicholson.

Mempertahankan gaya art deco, Joker seperti kilas balik ke film gerombolan bandit keluaran Warner Bros tahun 1930-an dan 1940-an.

Sebelum menjadi penjahat super berambut hijau, Joker adalah Jack Napier, tangan kanan ayah baptis mafia Kota Gotham.

Begitu dia menjadi Joker yang seutuhnya, kegilaannya yang tampak dengan kekeh memberi penghormatan kepada James Cagney di yang tampil dalam film White Heat (1949).

Terjepit di antara The Untouchables (1987) dan Dick Tracy (1990), Batman versi Tim Burton adalah bagian dari tren Hollywood untuk film-film gangster retro.

Dan segera setelah Wall Street (1987), terbukti bahwa penonton bioskop dekade 1980-an gemar melihat para penjahat berpakaian mewah menyombongkan diri di ruang direksi.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Sosok Joker yang masih terus dikenang banyak pihak adalah yang diperangkan Heath Ledger.

Sang anarkis (2008)

Batman: The Killing Joke (1988) adalah cerita awal Joker yang tidak disukai, baik oleh penulisnya (Alan Moore) maupun pemerannya (Brian Bolland). Tapi novel grafis mereka sangat berpengaruh.

Tim Burton menyebut karya itu sebagai komik favoritnya, sementara Christopher Nolan pasti juga membayangkannya saat bersama saudara laki-lakinya, Jonathan Nolan, menampilkan Joker untuk kedua kalinya dalam trilogi The Dark Knight (2008).

Dalam film The Killing Joke, Joker adalah seorang pemikir anarkis yang menganggap pilihan menjadi seorang yang tak rasional sebagai kewajaran.

Di film The Dark Knight, penampilan penuh luka dan berantakan Heath Ledger sebagai ‘agen kericuhan’ tampak bersandar pada nihilisme bahwa keberadaan manusia di dunia tidak terpaku pada satu tujuan.

“Satu-satunya cara paling bijaksana untuk hidup di dunia ini adalah menjalaninya tanpa aturan,” kata Joker dalam film itu, ketika Batman menginterogasinya di kantor polisi.

Mengumandangkan pemberontakan Generasi X di The Matrix dan Fight Club, Joker tidak fokus mencuri berlian atau menguasai Gotham. Seperti yang dikatakan Alfred, yang diperankan Michael Caine, “Beberapa orang hanya ingin melihat dunia ini berkobar dalam kericuhan.”

Hak atas foto
Gotham/GC Images

Image caption

Sosok Joker yang ditampilkan sebagai korban dimainkan oleh Joaquin Phoniex.

Si korban (2019)

Penampil Joker terakhir (Joaquin Phoenix) meniru apa yang dihadirkan film The Killing Joke. Ia menjiplak asal muasal tokoh ini dan menghadirkannya sebagai pelawak tunggal yang bercita-cita tinggi, yang telah dirundung, diabaikan, dan dimarginalkan oleh masyarakat.

Berkebalikan dengan The Dark Knight, drama yang disutradarai Todd Philips ini lebih menempatkan Joker sebagai korban, bukan bandit.

Joker diperlihatkan sebagai ‘anak mama’ yang membunuh orang-orang yang melukainya. Ia juga terlihat lebih gemar berpacaran daripada berbuat kriminal.

Namun, apakah sosok Joker ini layak mendapatkan simpati?

Sejumlah pengamat khawatir Joker ini akan memicu kasus penembakan massal, sedangkan beberapa pihak menyebutnya sebagai simbol revolusi yang hadir dalam waktu pas.

Bagaimanapun, karakter sebesar Joker akan selalu diterima secara berbeda oleh setiap orang. Fenomena itu akan selalu muncul saat membincangkan film Joker.

Hak atas foto
Lion’s Gate/Getty Images

Image caption

Christian Bale dianggap layak memerankan Joker, terutama karena pernah tampil sebagai sosok kontroversial di American Psycho.

Khayalan

Saya menghabiskan begitu banyak waktu untuk membuat daftar aktor yang saya harap memerankan Joker. Jadi biarkan saya menampilkan lima pemain peran teratas dalam daftar itu.

(5) Richard E Grant

Dia baru masuk dalam daftar ini. Bertubuh kekar, wajah yang sekilas serupa tokoh pewayangan Mr Punch, dan gerenyot mukanya yang tajam tentu faktor utama.

Sapuan cat putih dan guyuran cat rambut hijau adalah bahan yang ia butuhkan untuk beralih rupa. Namun gairah dan kegembiraan yang ditunjukkannya di Twitter mencuatkan namanya sebagai orang yang berbakat memerankan Joker.

Aktor ini terlihat selalu cekikikan dan menari sepanjang hidupnya.

(4) Nicholas Cage

Cage adalah seorang pemuja komik. Ia memberi nama anaknya, Kal-El, nama alias Superman.

Cage terkenal karena energi, kemampuan teatrikalnya yang di atas rata-rata. Hollywood, bagaimana mungkin kalian melewatkannya?

(3) Daniel Day-Lewis

Dagu, hidung, garis rambut, dan kemampuan akting mumpuni. Dia sosok yang sempurna untuk peran ini. Tentu saja, dia juga bisa terlihat menyeramkan.

(2) Christian Bale

Pilihan rumit karena Bale bermain sebagai Batman dalam film yang disutradarai Christopher Nolan. Namun lihat keangkuhan dan pesona buruknya menggunakan kapak dalam adegan Hip to be Square di film American Psycho, Anda barangkali kecewa bakatnya terbuang sia-sia menjadi pahlawan yang tak memiliki selera humor.

Dan sosok yang dibunuhnya dalam American Psycho diperankan Jared Leto, yang belakangan menjadi Joker dalam Suicide Squad. Ini mungkin akan menjadi sesuatu yang simbolis.

Pertimbangkan pula Michael Keaton. Tim Burton menjadikannya Batman, tapi film mereka sebelumnya, Beetlejuice, Keaton sebenarnya adalah arwah gentayangan Joker.

Hak atas foto
Sunset Boulevard/Getty Images

Image caption

Jim Carrey masuk daftar aktor yang sepantasnya memerankan Joker. Ia pernah tampil dalam film Batman Forever sebagai The Riddle.

(1) Jim Carrey

Pilihan ini juga rumit karena Carrey berperan menjadi The Riddler dalam film Batman Forever. Namun Carrey saat itu sebenarnya menjadi Joker dalam sosok yang lain.

Jadi kita melihat sekilas sebagus apa sebuah film yang mendayagunakan energi dan kegilaannya.

Dari semua aktor yang saat ini masih ada di muka bumi, Carrey adalah orang yang terlahir untuk memerankan Joker.

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris di BBC Culturedalam judulWhat the Joker says about the world he terrorises.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *