Fleabag: Apakah musim kedua serial ini akan sebagus sebelumnya?


Phoebe Waller-Bridge kembali dengan musim kedua dari serial komedi yang tajam, mengejutkan dan banyak dipuji ini. Caryn James menontonnya.

Tentu saja Fleabag akan jatuh cinta pada seorang pendeta. Apa yang lebih lucu, emosional, atau setia dengan penggambaran akan karakter yang kita kenal lewat musim pertama dari serial yang tajam buatan Phoebe Waller-Bridge?

Flebag – nama karakter itu – adalah seorang pahlawan sekaligus sosok anti-heroine, dia menggunakan seks dan humor sebagai tameng dalam menjalani hidupnya yang kacau.

Serial yang ditulis dan dibintangi sendiri oleh Waller-Bridge ini unik, dengan dialog yang cerdas dan kemudian bisa berubah emosi yang menusuk dan sedih.

Waller-Bridge membuat tema-tema berat ini terlihat begitu mudah diceritakan sampai-sampai kita bisa meremehkan betapa inovatif sebenarnya serial ini.

Musim kedua terjadi 371 hari, 19 jam dan 26 menit setelah kejadian di musim pertama, yang mengungkap sebuah duka besar yang ditanggung oleh Fleabag selama ini.

Dia tidur dengan pacar sahabatnya, dan menyebabkan si sahabat berjalan ke jalur pesepeda dan tewas. Kita tak bisa lari dari pengungkapan itu, sehingga di musim ini ada nada yang lebih suram.

Episode pertama terjadi pada satu malam dengan keluarganya, makan malam di sebuah restoran untuk merayakan ayahnya, seorang duda (Bill Paterson) yang bertungangan dengan Godmother atau Ibu Baptis (tak ada lagi nama yang diberikan pada karakter ini).

Dalam salah satu percakapan langsungnya ke arah kamera, Fleabag mengisahkan pada para penonton di awal dengan wajah usil bahwa “Ini adalah kisah cinta”. Pasti ini tidak akan berakhir baik.

Image caption

Episode pertama berpusat pada makan malam untuk merayakan pertunangan ayah Fleabag dengan Ibu Baptis atau Godmother (Olivia Colman).

Godmother diperankan dengan gemilang oleh Olivia Colman (The Favourite), yang tentu saja baru meraih aktris terbaik di penghargaan Oscar mengalahkan Glenn Close.

Godmother adalah seorang pelukis yang pamerannya, “Sexhibition”, dengan karya-karya yang menampilkan sejarah seksualitasnya, membuatnya menjadi setara dengan Fleabag, yang tidur dengan setiap pria.

Colman tampil luar biasa saat dia menghantarkan dialog-dialog Godmother yang menyindir. Saat menyebut orang-orang yang tidak fotogenik, dia melihat ke arah Fleabag dengan tatapan yang seolah-olah subtil tapi sebenarnya penuh makna.

Makan malam itu membawa Fleabag kembali berhadapan dengan kakaknya, yang sedang bermusuhan dengannya, Claire (Sian Clifford), dan suami Claire yang pembohong dan manipulatif secara emosional, Mark (Brett Gelman).

Namun tamu yang paling menarik perhatian adalah karakter penting baru di musim ini, pendeta yang akan menikahkan ayah dan Godmother. Dia adalah seorang sosok pria yang membumi dan cerdas, cocok untuk Fleabag jika saja tak ada sumpah selibat.

Andrew Scott yang memerankan sang pendeta bisa berbaur dengan para aktor lainnya, dia menyampaikan dialog-dialognya dengan mudah dan pemilihan waktu yang sangat tepat. Dialog ini tak akan diungkap, tapi alasan sang pendeta untuk tak lagi berbicara dengan saudaranya sendiri benar-benar luar biasa.

Waller-Bridge menyusun acara ini dengan begitu rapi dan ketatnya sampai-sampai tak ada satu pun adegan yang terasa berlebihan.

Kisah-kisah kecil Fleabag bermain dengan penonton, mengendalikan apa yang kita ketahui dan kapan kita bisa mengetahuinya. Dia selalu lebih tertarik untuk berbicara pada kita daripada dengan orang lain yang ada di ruangan dengannya, satu lagi penanda karakter yang seolah bebas, tapi sebenarnya tertutup pada orang-orang di sekitarnya.

Image caption

Andrew Scott memerankan seorang pendeta yang membumi yang dipilih untuk pernikahan di serial ini.

Perubahan emosi di serial ini begitu cepat dan mengagumkan.

Ayah Fleabag memberinya hadiah ulang tahun, sebuah voucher untuk sesi konseling. Penilaian yang buruk tampaknya banyak ditemukan di keluarga ini. Pada satu titik, makan malam yang buruk itu memberi Fleabag sebuah momen emosional yang privat dengan ayahnya.

“Ini tak penting,” katanya, merujuk ke kehidupannya. (Terapis yang muncul dalam episode berikutnya diperankan oleh Fiona Shaw. Selain itu, serial ini juga akan menampilkan Kristin Scott Thomas.)

Makan malam ini kemudian berakhir buruk, dan kita bisa melihat apa yang menyebabkan Fleabag berjalan sendirian dengan hidung yang berdarah sebagai gambar ikonik dari musim ini.

Menghancurkan diri sendiri adalah kekhasan Fleabag, dan Waller-Bridge sangat jago dalam mengeksplorasinya. Toh dia juga yang membuat musim pertama Killing Eve, di mana Sandra Oh berperan sebagai agen rahasia yang mendekat ke seorang pembunuh psikopat.

Mungkin salah satu keistimewaan Waller-Bridge yang paling terlihat dan paling tak mungkin adalah bagaimana dia mampu membuat karakter-karakter yang ‘salah’ dan berkemauan kuat menjadi begitu simpatik dan nyata.

Perempuan mana pun yang pernah jatuh cinta pada pria-pria yang tak tersedia atau membuat sahabatnya jadi musuh bisa melihat dirinya sendiri, dalam versi yang lebih kacau dan berlebihan, dalam sosok Fleabag.

Anda bisa membaca versi asli tulisan ini dalam bahasa Inggris di Fleabag series 2 review di laman BBC Culture

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *