Loading...

Covid-19: Aksi rasisme terhadap warga China di tengah pandemi, restoran di Swedia pajang gambar Xi Jinping sebagai ‘Manusia Kelelawar’


Keterangan gambar,

Bryanboy (kanan) mengatakan dia merasa kikuk mendapati poster itu ada di sebuah restoran.

Seiring terus menyebarnya virus corona di seluruh dunia, orang-orang keturunan Asia dilaporkan menghadapi permusuhan yang lebih besar.

Seorang pemengaruh fesyen keturunan Filipina, Bryanboy mengatakan dia terkejut mendapati poster ‘rasis’ yang dipajang di tembok sebuah restoran di Stockholm, Swedia.

“Ketika kami memesan makanan, kami menyadari ada poster besar di tembok – yang mengilustrasikan gambar Xi Jinping dengan warna kulit sangat kuning dan telinga kelelawar, serta tulisan ‘Manusia Kelelawar’,” ungkapnya.

Setelah itu, restoran mencopot poster tersebut.

Restoran Riche yang terletak di ibu kota Swedia mengatakan banyak orang yang mengungkapkan bahwa pameran itu “menganggu dan rasis, yang tentu saja bukan itu maksud sebenarnya”.

Restoran itu kemudian “meminta maaf dengan tulus kepada siapapun yang merasa dirugikan”.

Seniman dibalik poster tersebut, yang mempublikasikan karyanya dibawah nama Iron Art Works, berkata mereka meminta maaf atas kekacauan yang ditimbulkan, namun mereka tidak meminta maaf atas karya yang mereka buat.

“Tentu saja saya tidak ingin menyakiti orang, itu sama sekali bukan niat saya,” kata mereka kepada BBC melalui email.

Bryanboy, yang memiliki nama asli Bryan Yambao, tengah makan di restoran dengan seorang teman yang berasal dari Hong Kong pada Sabtu (10/10) lalu.

Dia kemudian mengunggah di instagramnya bahwa dia “malu” ketika melihat poster itu.

“Sejak [pandemi] Covid-10 terjadi, saya dan kebanyakan orang Asia lain yang saya tahu telah melalui banyak serangan berbau rasis dan xenofobia di dunia maya,” ujar Yambau, yang merupakan warga Filipina kepada BBC.

“Jadi ketika saya mendapatinya di kehidupan nyata, rasanya sangat aneh.”

Dia menambahkan bahwa dia telah memesan makanan, tapi “tak sabar untuk segera keluar dari restoran”.

Karya seni yang menampilkan presiden China sebagai “Menusia Kelelawar” dengan referensi atas teori bahwa virus corona mungkin berasal dari kelelawar dan ditampilkan di depan matahari terbit ala poster Jepang itu dipasang di restoran beberapa minggu lalu.

Kasus pertama virus corona tercatat di kota Wuhan di China akhir tahun lalu, tetapi virus tersebut telah menyebar ke seluruh dunia.

Pandemi telah menyebabkan gelombang rasisme, xenofobia, dan bahkan kekerasan yang ditujukan kepada orang-orang etnis China, serta orang-orang berpenampilan Asia Timur.

“Hampir setiap hari saya mendapatkan komentar, hanya karena saya Asia, mengaitkan saya dengan Covid,” tutur Yambao.

“Dan itu bukan hanya secara daring – gambar-gambar ini memiliki dampak di kehidupan nyata, karena mereka menciptakan lingkungan yang tidak bersahabat bagi orang Asia dan menormalkan rasisme dan xenofobia terhadap mereka. “

Seniman yang membuat karya itu mengatakan via Instagram bahwa karya mereka tidak bermaksud menjadi rasis, dan karya mereka termasuk penggambaran satir dari sejumlah pemimpin dunia.

“Niat saya hanya untuk membodohi Xi [Jinping]/PKC [Partai Komunis China] BUKAN membuat komentar rasis yang menyakiti banyak orang, tetapi saya tidak sengaja melakukannya, dan sekali lagi saya meminta maaf kepada Anda yang merasa seperti itu,” tulis mereka dalam unggahan Instagram.

Dalam tanggapannya kepada BBC, seniman tersebut mengatakan insiden itu adalah “contoh” dari cancel culture.

Cancel culture merujuk pada gagasan untuk “membatalkan” seseorang dengan arti memboikot atau menghilangkan pengaruh orang tersebut baik di media sosial maupun nyata.

Mereka pula berpendapat bahwa tidak ada keluhan rasisme terhadap karya seni mereka – yang menurut mereka telah ditampilkan di beberapa bagian Stockholm selama beberapa bulan dan di Restoran Riche selama sebulan – sampai akhir pekan ini.

Mereka menambahkan bahwa mereka pikir cancel culture adalah “bahaya yang lebih besar bagi masyarakat ketimbang karya seni mana pun”.

Tapi Yambao mengatakan tanggapan seni itu “bukan permintaan maaf”.

“Itu berasal dari tempat ketidaktahuan – bahwa dia tidak mengharapkannya menjadi rasis atau dianggap rasis… Saya mendukung kebebasan berekspresi oleh seniman, tetapi saya hanya berharap dia tahu apa dampak dari karyanya.”

“Di masa penuh kegilaan ini, ketika jutaan orang terdampak karena penyakit dan raturan ribu orang telah meninggal dunia, dan dunia telah berada di kondisi yang buruk, apakah kita perlu menciptakan karya yang memecah belah, yang bisa dipersepsikan secara salah oleh siapapun?” tanya Yambao.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan agar tidak mengaitkan suatu negara atau etnis ke pandemi.

“Ini bukan ‘Virus Wuhan’, ‘Virus China’ atau ‘Virus Asia’,” kata badan itu dalam pedoman yang dikeluarkan awal tahun ini, seraya menambahkan bahwa “nama resmi untuk penyakit itu sengaja dipilih untuk menghindari stigmatisasi”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *