Loading...

Bisakah kita hidup tanpa GPS?


Hak atas foto
Getty Images

Apabila GPS atau sistem navigasi berbasis satelit berhenti bekerja, apa yang terjadi?

Pertama-tama kita harus mulai menggunakan otak dan perhatian sepenuhnya ketika bepergian. Mungkin tak terlalu buruk karena salah ketik saat memasukkan nama kota bisa menyebabkan kita melenceng jauh dari tujuan.

Misalnya kisah pasangan Swedia yang berniat ke Pulau Capri mencari laut, malah tiba di kota tua Carpi dan kebingungan karena tak ada laut di sana. Ada juga kisah penggemar klub sepakbola Liverpool yang berniat menonton tim mereka melawan Genk, malah tiba di kota Ghent, dan tak ada pertandingan bola saat mereka tiba.

Tapi kisah macam itu sebetulnya kekecualian. Secara umum, GPS menolong kita agar tak tersesat.

Saat ini jika tak ada GPS, jalanan akan penuh pengemudi yang melambat sambil membaca peta. Ketika menelepon taksi, operator pasti sedang sibuk melacak di mana saja armada mereka berada. Bayangkan membuka aplikasi semacam Gojek.

Tanpa GPS, layanan darurat akan kesulitan karena operator tak bisa mengetahui lokasi penelepon dan tak bisa tahu di mana ambulans atau pos polisi terdekat.

Hak atas foto
Getty Images

Juga bakal ada kesimpangsiuran di pelabuhan karena derek peti kemas butuh GPS untuk mengetahui kapal yang perlu dibongkar.

Peternakan, konstruksi, perikanan dan survei adalah beberapa industri yang disebutkan oleh sebuah laporan pemerintah Inggris yang akan mengalami kerugian US$1 milyar per hari selama lima hari pertama seandainya GPS tiada.

Jika GPS tak berfungsi selama lebih dari lima hari, kita perlu khawatir dengan daya tahan keseluruhan sistem, karena GPS bukan hanya menyediakan layanan lokasi, tetapi juga layanan waktu.

GPS tediri dari 24 satelit yang membawa jam yang telah disinkronkan dengan presisi yang sangat ekstrem.

Ketika telepon pintar kita menggunakan GPS untuk menandai lokasi di peta, ia sebenarnya mengambil sinyal dari satelit-satelit itu lalu membuat kalkulasi berdasarkan waktu yang dikirimkan oleh sinyal itu serta di mana satelit itu berada.

Ketika jam di satelit itu meleset seperseribu detik saja, lokasi yang ditandai bisa ikut meleset sejauh 200 hingga 300 kilometer.

Maka jika Anda ingin informasi akurat soal waktu, maka lihatlah GPS.

Perhatikan juga jaringan telepon. Panggilan telepon kita berbagi tempat dengan panggilan lain melalui teknik yang disebut “multiplexing”. Lewat teknik ini, data ditandai dengan waktu, diacak, lalu disusun ulang lagi di sisi penerima telepon.

Kekeliruan satu per seratus ribu detik saja bisa menyebabkan banyak masalah. Pembayaran bank, pasar saham, pembangkit listrik, TV digital, cloud computing – semua ini terbentuk dari kordinasi mesin antar lokasi yang saling tergantung pada kesepakatan waktu yang diatur GPS.

Jika GPS benar-benar berhenti bekerja, tak bisa diketahui apakah sistem cadangannya akan bisa menggantikan dengan sama baik, kapan cadangan itu bisa tersedia dan berapa lama bisa bertahan.

Jawabannya, tidak ada yang sungguh-sungguh tahu. Maka dari itu tak heran kalau GPS sering disebut “utilitas tersembunyi”.

Jika coba menilai GPS dengan uang, penulis Greg Milner mengibaratkannya dalam buku Pinpoint: How GPS is Changing Our World: “itu sama saja artinya Anda bertanya, berapa harga oksigen bagi sistem pernapasan manusia”

GPS menjadi kisah penemuan istimewa yang pertama kali mendapat dukungan militer AS karena itu membantu mereka untuk melakukan pengeboman. Padahal mereka tak terlalu yakin, dan di awal tanggapan mereka adalah: “Saya tahu di mana saya berada, saya tak perlu satelit untuk kasih tahu!”

Hak atas foto
Layton Thompson

Image caption

Pelopor teknologi GPS Richard Schwartz, Brad Parkinson, James Spilker Jr dan Hugo Fruehauf diberi penghargaan Queen Elizabeth Prize.

Satelit GPS pertama diluncurkan tahun 1978 tetapi baru pada Perang Teluk tahun 1990 orang-orang yang skeptis itu teryakinkan.

Operasi Badai Gurun saat itu benar-benar terkena badai gurun yang membuat personelnya tak bisa melihat lebih dari jarak lima meter. GPS membuat para prajurit bisa menandai lokasi ranjau, dan berjalan ke sumber air tanpa harus terkena ranjau-ranjau itu.

Teknologi ini benar-benar menyelamatkan nyawa. Mililter AS saat itu tak punya banyak perangkat, maka para prajurit meminta keluarga mereka untuk membeli sendiri peralatan seharga sekitar US$1.000 (sekitar Rp14 juta) yang tersedia di pasaran.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Teknologi GPS sangat berguna bagi tentara sekutu pada Perang Teluk tahun 1991 ketika mereka menyerbu Kuwait yang diduduki oleh Irak.

Mengingat keuntungan penggunaan GPS secara strategis, lalu kenapa angkatan bersenjata AS membolehkan semua orang memakainya?

Sebetulnya mereka tidak membolehkan, tapi tak bisa apa-apa. Angkatan Bersenjata AS pernah mencoba memerintahkan satelit mengirimkan dua jenis sinyal – yang satu yang akurat untuk keperluan militer sendiri, yang lain yang berkualitas rendah untuk penduduk sipil.

Namun berbagai perusahaan mampu mengotak-atik sinyal kualitas rendah itu agar lebih fokus. Akhirnya pada tahun 2000 Presiden Bill Clinton memerintahkan sinyal berkualitas bagus ini tersedia bagi semua.

Uang pajak Amerika Serikat sebenarnya dipakai untuk mempertahankan GPS ini, tapi apakah bijak apabila seluruh dunia tergantung pada sedekah yang murah hati ini?

Perlu diketahui, GPS bukan satu-satunya sistem navigasi global dari satelit.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Sistem Beidou dari China sedang berkembang dengan pesat, di mana mereka meluncurkan lebih dari 10 satelit di tahun 2018.

Rusia juga punya, namanya Glonass, sekalipun belum terlalu baik. China dan Uni Eropa juga punya proyek mereka sendiri yang bernama Beidou dan Galileo. Jepang dan India juga sedang mengerjakan sistem mereka.

Sistem alternatif ini bisa membantu menyingkirkan ketergantungan tunggal pada GPS. Namun mereka juga amat menggoda sebagai calon sasaran militer seandainya terjadi perang.

Bayangkan perang luar angkasa di mana masing-masing pihak berupaya membuat pihak lain kehilangan navigasi global.

Namun badai matahari yang besar juga bisa menghancurkan sistem-sistem itu.

Ada juga alternatif sistem seperti itu yang dibangun di darat. Yang terbesar namanya eLoran tapi sistem ini tidak bisa mencakup seluruh dunia.

Salah satu daya tarik eLoran adalah, sinyalnya lebih kuat. Sinyal GPS menempuh perjalanan sekitar 20.000 kilometer ke bumi membuatnya sangat lemah dan mudah dibikin macet atau diacak, jika Anda tahu caranya.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Rusia membantah tuduhan Israel bahwa mereka berada di balik gangguan sinyal GPS di bandara Ben Gurion di Israel.

Profesor Todd Humphreys pernah memperlihatkan pengacakan sinyal GPS bisa membuat drone tak bekerja dan kapal pesiar melenceng dari tujuan. Ia khawatir kemungkinan adanya penyerang yang menyasar jaringan listrik, melumpuhkan jaringan telepon genggam dan meruntuhkan pasar saham.

Kenyataannya, sulit untuk bisa yakin seberapa besar kerugian yang bisa ditimbulkan oleh pengacakan sinyal GPS.

Tapi coba tanya kepada turis Swedia di Carpi atau penggemar Liverpool di Ghent tadi. Jika kita tahu bahwa kita nyasar, itu masih lebih baik ketimbang kita yakin kita tahu menuju ke mana tapi ternyata tiba di tempat yang salah.

50 Things That Made the Modern Economydisiarkan oleh BBC World Service. Keterangan mengenai program ini ada di sinidan semua episode ada di sinisubscribe to the programme podcast.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *