Loading...

Banyak hewan terancam punah: Bagaimana kerusakan lingkungan berkaitan dengan munculnya wabah penyakit baru?


  • Victoria Gill
  • Wartawan Sains BBC News

Keterangan gambar,

Banyak primata, termasuk monyet emas hidung pesek terancam punah karena kehilangan habibat.

Umat manusia berada di sebuah persimpangan jalan, dan kita harus mengambil tindakan segera, guna memberi ruang bagi alam untuk memulihkan diri dan memperlambat “kerusakan yang semakin cepat”.

Hal ini menyusul sebuah laporan dari Konvensi PBB untuk Keanekaragaman Hayati.

Konvensi ini mengemukakan daftar poin delapan transisi utama yang dapat membantu menghentikan kemerosotan yang terjadi di alam.

“Segalanya harus berubah,” kata sekretaris eksekutif konvensi, Elizabeth Maruma Mrema.

Jika kita mengambil tindakan, tindakan yang tepat – seperti yang diusulkan laporan ini- kita dapat bertransisi ke arah planet yang berkelanjutan.”

Keterangan gambar,

Menangani perubahan iklim akan sangat penting dalam upaya “membengkokan kurva” pada menyusutnya keanekaragaman hayati.

Apa kaitan antara mengeksploitasi alam dan kesehatan manusia?

Penyakit baru telah muncul pada populasi manusia, mungkin tiga atau empat kali setiap tahun. Ini hanya terjadi ketika mereka dengan mudah menular dari manusia ke manusia – seperti virus corona – bahwa penyakit ini berpotensi untuk memicu sebuah pandemi.

Tapi, peluang kemunculan penyakit baru ini dapat meningkatkan kemungkinan penyakit itu menjadi “covid berikutnya”.

Dan semuanya itu bukan benar-benar penyakit baru – mereka hanya sesuatu yang baru bagi spesies kita. Sebagian besar wabah disebabkan oleh penyakit hewan yang menyebar ke populasi manusia.

Ebola dan HIV berasal dari primata; para ilmuan mengaitkan kasus Ebola dengan mengkonsumsi hewan yang terjangkit virus Ebola.

Sebuah gigitan dari hewan yang terinfeksi rabies adalah cara paling efektif untuk penularan penyakit. 20 tahun sebelum pandemi Covid-19, SARs, MERs, flu babi, dan flu burung, semua penyakit berasal dari hewan.

Saat kita merekayasa ulang dunia yang alami, kita telah melanggar reservoir penyakit hewan dan menempatkan diri kita di dalam risiko.

“Semakin banyak kita mempengaruhi populasi satwa liar, menebang hutan, dan menyebabkan hewan berpindah dan memasuki lingkungan kita,” kata Profesor Matthew Baylis, seorang ahli epidemiologi hewan dari Universitas Liverpool di Inggris.

“Itu menyebabkan patogen (sumber penyakit) ditularkan dari satu spesies ke spesies lain. Jadi perilaku kita dalam skala global telah memfasilitasi penyebaran patogen dari hewan ke manusia.”

Bagaimana kinerja manusia dalam melindungi alam?

Konvensi PBB (CBD) menyebutnya sebagai “kartu laporan terakhir” tentang kemajuan terhadap 20 target keanekaragaman hayati global yang disepakati pada 2010 dengan tenggat waktu penyelesaian pada 2020.

“Kemajuan telah tercapai, tapi tak satu pun dari target-target itu telah tercapai sepenuhnya,” kata Maruma Mrema kepada BBC News.

“Jadi sangat banyak yang harus dilakukan untuk membengkokkan kurva terhadap hilangnya keanekaragaman hayati.”

Selain peringatan yang tegas, laporan ini menetapkan instruksi manual tentang cara menurunkan kurva itu.

“Ini bisa dilakukan,” kata David Cooper, wakil sekretaris eksekutif CBD.

“Tahun depan di China kita akan menggelar konferensi PBB untuk keanekaragaman hayati, di mana negara-negara diharapkan mengadopsi sebuah kerangka kerja baru yang mewakili komitmen global untuk meletakan alam agar bisa mulai merintish untuk pemulihan pada 2030.”

Keterangan gambar,

Ini adalah primata yang memiliki kedekatan dengan kita, tapi Orangutan Borneo berada di ambang kepunahan.

Kerangka kerja – yang dijuluki “perjanjian iklim Paris untuk alam”, akan mencakup delapan transisi utama di mana 196 negara diharapkan berkomitmen untuk:

  • Tanah dan hutan: Melindungi habitat dan mengurangi penurunan muka tanah;
  • Pertanian berkelanjutan: Merancang kembali cara bertani untuk meminimalisir dampak negatif pada alam, melalui banyak hal seperti pembukaan hutan untuk pertanian dan penggunaan pupuk dan pestisida secara intensif;
  • Pangan: Menyantap makanan yang lebih berkelanjutan, utamanya, menghindari mengkonsumsi daging dan ikan dan membuang-buang makanan;
  • Kelautan dan perikanan: Melindungi dan mengembalikan ekosistem laut dan cara menangkap ikan yang berkelanjutan – agar memungkinan untuk memulihkan ketersediaan ikan di laut dan penting untuk melindungi habitat laut;
  • Penghijauan perkotaan: Membuat lebih banyak ruang terbuka hijau di kota-kota besar, di mana tiga perempatnya menjadi tempat tinggal kita;
  • Air bersih: Melindungi habitat di danau dan sungai, mengurangi polusi dan meningkatkan kualitas air;
  • Aksi iklim yang mendesak: Mengambil aksi pada perubahan iklim dengan “menghapus cepat” penggunaan bahan bakar fosil;
  • Pendekatan ‘Satu Kesehatan’: Hal ini mencakup semua poin di atas. Ini pada dasarnya berarti mengelola seluruh lingkungan kita – apakah ini perkotaan, pertanian, hutan dan perikanan – dengan kampanye yang bertujuan untuk mempromosikan “lingkungan dan masyarakat sehat”.

“Covid-19 telah menjadi pengingat yang kuat yang mengaitkan antara tindakan manusia dan alam,” kata Maruma Mrema. “Sekarang, kita memiliki kesempatan untuk melakukan hal yang lebih baik pasca pandemi.

Apakah sudah ada kemajuan dalam satu dekade terakhir?

Laporan ini menyoroti sejumlah hal yang sukses dilakukan: laju deforestasi terus menerus turun, pemberantasan invansi makhluk asing dari pulau-pulau telah meningkat, dan kesadaran keanekaragaman tampaknya juga meningkat.

Keterangan gambar,

Photographer Joel Sartore dalam misi untuk mendokumentasikan hewan terancam punah, seperti macan Melayu, sebelum akhirnya punah.

“Banyak hal baik telah terjadi dari seluruh dunia, dan ini semua harus dirayakan dan didorong,” kata Maruma Mrema. Namun, dia menambahkan, laju hilangnya keanekaragaman hayati tak dapat diperkirakan dalam sejarah manusia, tekanan semakin meningkat.

“Kita harus bertindak sekarang. Ini belum terlambat. Jika tidak, anak dan cucu kita akan mengutuk kita karena kita telah mewariskan planet yang dipenuhi polusi, hina dan tidak sehat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *