Loading...

Bagaimana mesin jahit tak sengaja telah membebaskan perempuan


Hak atas foto
Getty Images

Kapitalisme telah mengambil wajah baru. Ini adalah satu cerita bagaimana niat menangguk keuntungan tak sengaja mendorong juga keadilan sosial.

Perusahaan pisau cukur Gillette membuat iklan yang anti terhadap maskulinitas yang merugikan (toxic masculinity), dan perusahaan bir Budweiser membuat botol warna warni untuk mendorong kebanggan terhadap identitas gender yang cair.

Tahun 1850, kisah semacam ini ada pada mesin jahit.

Seorang penemu bernama Isaac Merritt Singer tinggal di Boston, Amerika Serikat, berusaha jadi kaya dengan menciptakan berbagai mesin.

Ia menciptakan mesin pembuat huruf kayu yang dipakai dalam percetakan. Sekalipun mesin buatannya sangat handal, orang tak mau membelinya karena huruf kayu sudah ketinggalan jaman.

Lalu ia beralih ke mesin jahit. Banyak upaya membuatnya selama berpuluh-puluh tahun, tapi tak ada yang berhasil membuat mesin jahit yang handal.

Saat itu tenaga penjahit tergolong murah. Koran New York Herald menyatakan tak ada yang lebih menderita dan kesulitan hidupnya daripada tukang jahit.

Menjahit sepotong kemeja membutuhkan waktu 14 jam, dan mempercepat proses itu bisa mahal biayanya.

Namun bukan hanya penjahit yang menderita. Banyak para istri dan anak yang dituntut bisa menjahit. Menurut penulis Sarah Hale, pekerjaan tanpa akhir ini akan membuat hidup perempuan “isinya cuma kerja keras dalam kebosanan abadi”.

Isaac Merritt Singer sendiri adalah seorang yang flamboyan, kharismatik, murah hati tapi terkenal bisa kejam.

Ia seorang perayu perempuan, setidaknya punya 22 orang anak.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Isaac Meritt Singer.

Selama bertahun-tahun, ia punya menjadi kepala dari tiga keluarga berbeda, dan mereka tidak saling tahu satu sama lain.

Saat masih menikah pun, ia bisa menikahi perempuan lain. Setidaknya, seorang perempuan mengaku Singer pernah memukulinya.

Dengan kepribadian begini, Singer bukan seorang pendukung hak perempuan. Sebaliknya, kepribadian begitu bisa membuat perempuan turun ke jalan memprotesnya.

Penulis biografi Singer, Ruth Brandon, pernah berkata bahwa Singer merupakan “jenis pria yang membuat gerakan perempuan semakin kompak (untuk melawannya)”.

Singer lalu membuat purwarupa mesin jahit. Ia melakukan beberapa perubahan dari mesin jahit yang sudah ada dan mempatenkannya.

Hasilnya luar biasa. Dengan mesin buatannya, hanya perlu satu jam untuk menjahit satu kemeja.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Mesin jahit buatan Isaac Meritt Singer pertama dipatenkan tahun 1851.

Namun mesin jahitnya itu tergantung pada komponen yang sudah dipatenkan orang lain. Misalnya jarum runcing beralur untuk mengunci jahitan, atau mekanisme pengumpan kain.

Maka di “dekade 1850-an terjadi “perang mesin jahit”, ketika berbagai perusahaan lebih sibuk menuntut pelanggaran paten satu sama lain daripada menjual mesin mereka.

Sampai akhirnya mereka sepakat untuk menggabungkan paten-paten mereka, dan bersama-sama menyingkirkan pesaing lain yang lebih kecil.

Sesudah pertempuran paten ini selesai, mesin jahit mulai naik daun. Singer segera menjadi dominan.

Mesin jahit Singer berhasil mengalahkan reputasi mesin sebelumnya yang lambat dan tidak handal.

Perusahaan lain mengembangkan “sistem Amerika” dengan mencetak khusus komponen yang bisa digantikan satu sama lain.

Singer terlambat dalam soal ini. Komponen mesin jahitnya dibuat dengan tangan, serta mur dan baut yang tersedia di toko-toko.

Namun Singer dan mitra bisnisnya Edward Clark, merupakan pelopor dalam hal lain: pemasaran.

Mesin jahit mahal harganya, seharga pemasukan satu keluarga selama beberapa bulan.

Clark punya ide: sewa-beli. Satu keluarga bisa menyewa mesin jahit beberapa dolar sebulan, dan ketika uang sewa yang dibayarkan sudah mencapai harga jual, maka mereka bisa memiliki mesin jahit tersebut.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Iklan mesin jahit Singer tahun 1900.

Tenaga penjualan Singer juga berperan memasang mesin itu ketika dibeli dan bisa dipanggil untuk mengecek apabila mesin tidak bekerja.

Namun masih ada musuh bagi pemasaran ini: misogini. Banyak prasangka bahwa perempuan tidak bisa mengoperasikan mesin jahit mahal ini.

Padahal untuk sukses Singer harus memperlihatkan bahwa perempuan memang mampu, sekalipun dalam kehidupan nyata, mungkin ia tak terlihat menghargai perempuan.

Hak atas foto
Punch Cartoon Library / TopFoto

Image caption

Kartun yang meledek mesin jahit: “Ini penemuan yang sangat ajaib, ibu-ibu, dan bisa mengerjakan tugas dengan efisien dan cepat. Maka saya pikir tidak ada lagi yang bisa dikerjakan perempuan sekarang selain meningkatkan intelektualitas mereka”.

Lalu Singer menyewa etalase di Broadway, New York dan mempekerjakan perempuan muda menjahit di sana. Banyak orang berkerumun untuk menonton.

Iklan Singer juga menggambarkan perempuan sebagai pengambil keputusan: “Dijual oleh pembuatnya, langsung kepada perempuan kepala keluarga”.

Iklannya juga mengimplikasikan perempuan sebaiknya bercita-cita mandiri secara finansial: “Setiap perempuan yang bisa mengoperasikan mesin ini dengan baik akan punya penghasilan US$1.000 per tahun!”

Tahun 1860, New York Times menulis: tak ada penemuan lain yang membawa “kelegaan bagi ibu dan anak perempuan kita”. Para penjahit juga berhasil mendapat “penghasilan lebih besar dan pekerjaan mereka jadi lebih ringan”.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Penjahit memakai mesin jahit Singer tahun 1907.

Namun mereka masih menyebut mesin jahit sebagai “penemuan jenius seorang pria”.

Kata Sarah Hale yang menulis Godey’s Lady’s Book and Magazine tahun 1860 : “Para perempuan penjahit kini bisa beristirahat malam hari, dan punya waktu sepanjang hari untuk keluarga dan bergembira. Bukankah ini kemajuan besar bagi dunia?”

Seperti halnya banyak orang skeptis pada kapitalisme yang punya wajah mendukung keadilan sosial, Singer juga mungkin berniat menangguk untung saja.

Namun ini juga bukti bahwa kemajuan sosial terkadang dicapai lewat motivasi mencari keuntungan bagi diri sendiri.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *