‘Anakku bunuh diri setelah disunat’


Hak atas foto
Lesley Roberts

Image caption

Alex Hardy sent his mum Lesley Roberts an email explaining his decision

“Segera menjadi jelas bahwa apa yang baru saja terjadi adalah sebuah bencana… saya mati pada tahun 2015, bukan saat ini.”

Lesley Roberts tertegun ketika ia membaca email terakhir dari putra kesayangannya, Alex Hardy, yang menghancurkan hatinya.

Email itu telah diatur agar terkirim pada tanggal 25 November 2017, 12 jam setelah ia menghabisi nyawanya sendiri. Kurang dari satu jam sebelum email itu masuk ke dalam kotak pesannya, Lesley membuka pintu depan rumahnya dan menemukan seorang polisi berdiri di dalam, menjelaskan bahwa anaknya telah meninggal dunia.

Alex adalah seorang pemuda berusia 23 tahun yang cerdas dan populer tanpa riwayat penyakit jiwa. Lesley tidak mengerti mengapa ia ingin bunuh diri.

Dalam emailnya ia menjelaskan bagaimana kulup penisnya telah diangkat melalui prosedur operasi dua tahun sebelumnya. Hal itu biasa disebut sunat, namun Alex kemudian meyakini bahwa hal itu seharusnya dianggap sebagai “mutilasi organ kelamin pria”.

Ia tak pernah mengungkit-ungkit hal itu kepada keluarga maupun temannya ketika ia hidup. Lesley bahkan tidak tahu bahwa anaknya tersebut telah disunat.

Pada bulan-bulan berikutnya, ia mencoba menggali lebih dalam tentang apa itu sunat. Kenapa hal itu sangat berdampak buruk pada Alex, dan kenapa ia merasa bahwa bunuh diri adalah satu-satunya pilihan yang ia miliki?

Hak atas foto
Lesley Roberts

Image caption

Lesley mengatakan bahwa impiannya menjadi kenyataan saat ia menjadi seorang ibu pada bulan Juli 1994

Alex adalah anak tertua dari tiga putra Lesley dan, dulu, kehadirannya sangat dinantikan, setelah ia dikandung melalui prosedur perawatan kesuburan.

Lesley mengatakan bahwa impiannya menjadi nyata ketika ia menjadi seorang ibu pada bulan Juli 1994.

“Ia adalah segalanya yang aku harapkan,” ujarnya. “Tampan, pintar bergaul, dan menyayangi adik laki-lakinya, Thomas, yang lahir setelah saya menjalani lebih banyak perawatan kesuburan, hampir tiga tahun kemudian.”

Ia juga sangat menyayangi adik bungsunya, James, yang lahir ketika Alex sudah menginjak usia 13 tahun. Dinding dan jendela rumah Lesley di Cheshire dipenuhi foto-foto mereka.

Alex melewati semua jenjang pendidikannya dengan baik dan ia memiliki bakat, khususnya, dalam bahasa Inggris, saking berbakatnya sampai-sampai bekas sekolahnya dulu mengadakan ajang penghargaan dengan nama Alex Hardy Creative Writing Award sebagai bentuk penghormatan terhadapnya.

“Alex sangat berminat dalam sejarah, tetapi sebagai guru bahasa Inggrisnya, saya melihat bakat murninya dalam bidang kepenulisan,” ujar Jason Lowe, yang kini menjadi kepala guru di SMA Tarpoley.

Hak atas foto
Lesley Roberts

Image caption

Alex adalah seorang anak yang cerdas dan berprestasi di sekolah

Pada saat mengikuti perjalanan wisata ski sekolahnya ke Kanada saat ia masih berumur 14 tahun, Alex jatuh cinta dengan negara tersebut. Saat kecil, ia sangat menyukai ski dan perjalanan saat itu memunculkan kembali hasratnya. Maka, ketika Alex berusia 18 tahun, dia memutuskan untuk menunda kuliah dan tinggal selama setahun di Kanada.

“Ia benar-benar jatuh cinta dengan Kanada dan berteman dengan banyak orang serta mendapat promosi jabatan di kantornya,” ujar Lesley.

“Setelah satu tahun di sana ia menelepon saya dan mengatakan ‘Ibu, aku menunda kuliah ya’. Hal yang sama kembali terjadi setelah tahun keduanya di sana.”

Dua tahun menjadi tiga tahun, kemudian empat tahun, dan ketika ia meninggal dunia, ia sudah tinggal selama lima tahun di Kanada dan sudah mendapatkan status penduduk.

“Ia dikenal dengan panggilan ‘pemuda Inggris yang sangat pintar’ dengan perilaku yang tanpa cela,” ujar sang ibu. “Pemuda super cerdas dari Inggris yang membantu orang-orang mendaftar status kependudukan di Kanada.”

Hak atas foto
Lesley Roberts

Image caption

Alex adalah seorang pemain ski dan papan seluncur yang andal, akan tetapi ia mendapati bahwa aktivitas fisik menjadi menyakitkan setelah ia disunat

Lesley mengunjungi anaknya beberapa kali, baik sendirian maupun bersama adik-adik dan ayah tirinya. Mereka adalah keluarga yang sangat dekat, akan tetapi Alex tidak mengatakan kepada mereka bahwa ia diam-diam mengalami gangguan dengan penisnya.

“Saya punya masalah dengan kulup penis saya saat mengetat,” ia akhirnya menulis hal itu dalam email terakhirnya, “sejak akhir masa remaja, hal itu menciptakan masalah dalam kehidupan seks saya, yaitu kulup penis saya tidak mau kembali menutupi kelenjar seperti seharusnya dan hal itu mengakibatkan berbagai momen canggung.”

Pada tahun 2015, masih diam-diam menderita hal itu, Alex berkonsultasi kepada seorang dokter di Kanada. Ia lantas diberi krim steroid untuk mengendurkan kulupnya, namun kembali ke dokter lagi setelah beberapa minggu karena ia merasa perawatan yang diberikan sang dokter tidak berhasil.

Istilah medis bagi masalah penis yang dialami Alex adalah phimosis. Secara sederhana berarti kulup penisnya terlalu ketat untuk tertarik kembali dari kepala penisnya, atau disebut Alex dalam emailnya dengan istilah “kelenjar”. Hal itu sangat normal bagi anak laki-laki pada usia mereka yang masih muda. Semakin bertambahnya usia, kulup mereka biasanya akan mulai terpisah dari kepala penis.

Image caption

Lesley mengatakan bahwa Alex adalah sosok yang “intuitif, punya rasa empati, lembut, baik hati, jenaka, unik, berprasangka baik, dan penyayang”

Phimosis tidak selalu menyebabkan masalah, namun jika terjadi, masalah yang ada termasuk kesulitan kencing dan rasa sakit saat berhubungan seks. Di Inggris, Lembaga Pelayanan Kesehatan Nasional menyarankan pemberian steroid topikal dan teknik peregangan – dan sunat menjadi pilihan terakhir.

Di Kanada, di mana praktik sunat adalah hal biasa, Alex dirujuk kepada seorang ahli urologi.

“Ia langsung menyarankan sunat,” tulis Alex. “Saya menanyakan tentang teknik peregangan dan ia langsung berbohong kepada saya dan mengatakan bahwa hal itu tidak akan berhasil bagi saya.

“Saya percaya karena saya merasa dia pakar yang tahu hal terbaik dalam hal ini, maka meskipun saya sedikit tidak yakin, saya menyetujuinya.”

Sejak itu, Lesley membaca ulasan online terkait sosok sang ahli urologi yang telah membuatnya mempertanyakan kompetensi keahliannya. Salah satu pasien mengatakan bahwa ia tidak bisa bekerja setelah menjalani operasi untuk masalah ginjalnya, dan ia menganggap sang ahli urologi telah “menghancurkan” kualitas hidupnya.

“Saya ibu tiga orang anak yang setiap harinya merasa takut bahwa saya akan mati sementara anak-anak melihat saya menderita akibat rasa sakit luar biasa,” tulisnya.

“Saya bisa tahu bagaimana ia salah mendiagnosa orang lain, melakukan operasi gagal, dan menghancurkan hidup orang-orang,” ujar komentar lainnya. “Ia benar-benar tidak kompeten.”

Ulasan lain tentang ahli urologi Alex menyatakan: “Mereka meninggalkan sebuah peralatan operasi di dalam kandung kemih saya dan saya baru diberitahu tiga bulan kemudian. Selamatkan diri Anda sebelum Anda terluka!”

Hak atas foto
Lesley Roberts

Image caption

Lesley mengatakan ia merindukan mata berbinar Alex, senyumnya, selera humornya, dan pelukannya

Lesley yang “ngeri” dengan ulasan-ulasan tersebut, meminta agar ahli urologi itu diselidiki. Ia dikabari bahwa penyelidikan tengah dilakukan.

The College of Physicians and Surgeons of British Columbia mengatakan kepada BBC bahwa mereka “tidak bisa memberitahu ada-tidaknya keluhan terhadap seorang dokter, dan hanya akan melakukannya jika keluhan tersebut mengarah pada disiplin formal.”

“Saya berharap, dengan tarikan napas yang terakhir dan seluruh hati saya, putra tercinta saya melarikan diri,” ujar Lesley.

Yang sangat disesalkannya, Alex tidak bisa mencari tahu tentang ahli urologi tersebut – atau tentang praktik sunat – dengan baik saat itu karena laptopnya sedang rusak.

Ia sudah mencoba mencari tahu soal topik tersebut di komputer umum namun ia merasa tidak nyaman, dan juga merasa bahwa hal itu “terlalu tabu” untuk didiskusikan dengan teman.

Maka, Alex pun menjadwalkan sesi yang sepengetahuannya hanya sebuah prosedur kecil, kemudian menjalani operasi pada tahun 2015, saat usianya 21 tahun.

Hak atas foto
Lesley Roberts

Image caption

Alex menyayangi adik laki-lakinya

Dalam email kepada ibunya, Alex menjelaskan secara rinci, kendala fisik yang ia derita setelah menjalani sunat.

Ia menjelaskan bahwa ia mengalami stimulasi terus-menerus dari kepala penisnya, yang sudah tak terlindungi kulup lagi.

“Sensasi terstimulasi yang selalu ada akibat gesekan pakaian ini adalah sebuah penyiksaan; sensasi itu belum surut/kembali normal setelah terjadi bertahun-tahun,” tulisnya.

“Bayangkan apa yang terjadi pada bola mata jika kelopak mata diamputasi?”

“Ia merasa sangat kesakitan sampai-sampai melakukan aktivitas fisik biasa pun terasa sakit,” ujar Lesley. “Ia adalah seorang pemain ski dan papan seluncur yang andal, Anda bisa bayangkan rasa sakit yang dialaminya.”

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Kulup melindungi kepala penis, yang dikenal sebagai kelenjar

Konsultan ahli bedah urologi, Trevor Dorkin, yang merupakan anggota Asosiasi Ahli Bedah Urologi Inggris, mengatakan kepada pasiennya bahwa kepala penis mereka akan menjadi lebih sensitif setelah disunat.

Akan tetapi, sensitivitas tersebut biasanya akan berkurang.

“Saya selalu mengatakan kepada para pria ‘ini akan terasa lebih sensitif pada mulanya’ karena tiba-tiba Anda tidak punya perlindungan di bagian kepala penis dan ini akan terasa berbeda,” ujar Dorkin, yang telah melakukan lebih dari 1.000 prosedur sunat.

“Namun dalam sebagian besar kasus, mereka bisa menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut, begitu pula otak mereka, ia akan menyesuaikan dengan sinyal yang kembali dari syaraf di bagian kepala penis.”

Alex juga menuliskan pengalaman disfungsi ereksi, sensasi terbakar dan gatal yang dialaminya, khususnya dari bekas luka yang berada di area di mana frenulumnya diangkat. Frenulum adalah pita jaringan tempat kulup penis menempel dengan bagian bawah permukaan penis. Beberapa pria merujuknya dengan istilah “senar banjo”.

“Ini salah satu area yang lebih sensitif sehingga dianggap penting dalam fungsi seksual,” ujar Dorkin.

“Kulup, kepala penis dan frenulum adalah area yang sangat-sangat sensitif.

“Tetapi sekali lagi, ketika Anda melakukan sunat, terkadang frenulum itu tidak dipertahankan dan itu tidak memiliki efek pada fungsi dan kenikmatan seksual secara keseluruhan.”

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Sejumlah gerakan yang menganggap sunat sebagai mutilasi organ seksual pria mulai bermunculan

Akan tetapi Alex merasa frenulumnya penting.

“Tanpa keberadaannya, aku jadi bisa memastikan bahwa frenulum adalah area paling sensitif dari penis dan dari keseluruhan tubuh pria,” tulisnya.

“Jika seseorang ingin mengamputasi klitorismu, kamu mungkin akan mulai memahami bagaimana rasanya.”

Ia menulis tentang pengalaman keram dan kontraksi otot serta sensasi “tidak nyaman” yang terasa hingga ke dalam perutnya.

Lesley tidak tahu apakah Alex berhubungan seks atau tidak setelah disunat.

“Di tempat di mana sebelumnya terdapat organ seksual, kini di tubuh saya hanya tersisa sebuah batang yang rusak dan kebas,” tulisnya. “Seksualitas saya telah hancur berkeping-keping.”

Ia bertanya: “Alam tahu yang terbaik – bagaimana mungkin memangkas bagian jaringan yang sehat bisa meningkatkan sebuah rancangan alam yang telah disempurnakan?”

Image caption

Lesley tidak tahu sang putra telah disunat hingga ia meninggal dunia

Seperti kebanyakan, Lesley mengaku ia tidak tahu banyak tentang kulup penis atau sunat sebelum anaknya meninggal.

“Saya tidak tahu sama sekali, kecuali bahwa sepengetahuan saya, sunat adalah prosedur operasi yang biasa dilakukan,” ujarnya.

Kulup penis terkadang dianggap sebagai “lipatan kulit yang tidak berguna”, akan tetapi Dorkin mengatakan bahwa keberadaan kulup punya tujuan.

“Ia menutupi bagian kepala penis,” ujarnya. “Terkait kegunaannya, ia memberikan sedikit perlindungan terhadap bagian kepala penis. Diperkirakan memiliki semacam fungsi imun, mungkin.”

Jumlah pria yang disunat bervariasi, tergantung di mana Anda hidup dan dalam budaya seperti apa Anda tumbuh besar.

Berdasarkan Badan Kesehatan Dunia (WHO), 95% pria disunat di Nigeria, akan tetapi di Inggris hanya 8,5%.

Kebanyakan pria yang disunat di Inggris merupakan pria Muslim atau Yahudi, karena sunat diyakini sebagai bagian penting dalam agama tersebut.

Menurut sensus tahun 2011, terdapat 4,8% populasi Muslim di Inggris dan Wales, sementara populasi Yahudi di tempat yang sama sebesar 0,5%.

Orang yang meragukan sunat terkadang dianggap sebagai orang yang anti-semit atau Islamofobia, namun Lesley menekankan bahwa anaknya bukanlah keduanya.

“Bagi saya, ini tidak ada hubungannya dengan agama sama sekali. Saya menghormati orang-orang yang memiliki keyakinan atau tidak berkeyakinan, seperti Alex,” ujarnya.

Di Kanada, negara tujuan Alex pindah, sekitar 32% pria disunat.

Alex merasa bahwa fenomena sunat pria telah dinormalisasi, sehingga orang tak lagi mempertanyakannya. Sementara itu, sunat perempuan kemudian lebih dikenal dengan istilah mutilasi organ kelamin perempuan (FGM) dan kini dianggap ilegal di banyak negara.

Image caption

Alex adalah anak tertua dari tiga bersaudara

Ia merasa bahwa sunat laki-laki patut disebut sebagai “mutilasi organ seksual pria” – sebuah pandangan yang juga dianut oleh aktivis gerakan anti-sunat yang jumlahnya semakin bertumbuh.

“Jika saya perempuan (di negara-negara Barat), hal ini akan dianggap ilegal, dokter bedah akan menjadi seorang kriminal dan hal ini tak akan menjadi pertimbangan para dokter,” tulis Alex.

“Saya tidak percaya akan kedigdayaan gender tertentu di atas gender yang lain, tetapi saya sangat yakin bahwa kesetaraan gender harus tercapai bagi semua orang.”

Para aktivis “otonomi organ seskual” percaya bahwa melakukan sunat terhadap seorang bayi atau anak – baik laki-laki maupun perempuan – adalah sebuah kesalahan, karena bayi atau anak sebagai pasien belum memiliki kesadaran untuk memberi izin atas suatu prosedur terhadap tubuh mereka, dan para aktivis pun menganggap sunat sebagai masalah hak asasi manusia.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Aktivitas “otonomi organ seksual” berpendapat bahwa sunat terhadap bayi adalah kesalahan karena seorang bayi tidak bisa memberikan izin

Hidup dengan penis yang utuh selama 21 tahun, Alex percaya bahwa pria yang disunat ketika bayi atau anak-anak akan “secara tragis, tidak mampu memahami secara utuh apa yang telah hilang (dari tubuh mereka)”. Ia memperkirakan bahwa sensitivitas penisnya telah direnggut 75%.

Meski demikian, pengalaman pria yang disunat saat dewasa berbeda beda antara satu dengan yang lain.

Beberapa pria sebenarnya lebih suka berhubungan seks setelah disunat karena mereka tak lagi merasakan sakit akibat kulup yang ketat atau terasa terbakar.

Beberapa mengaku amat kehilangan sensitivitas dan sangat mengurangi kenikmatan seksual mereka.

Sementara beberapa lainnya mengaku menjadi agak sedikit kurang sensitif namun tidak ada perubahan terhadap kenikmatan seks secara keseluruhan.

Beberapa justru sangat senang dengan keputusan mereka untuk disunat.

Beberapa yang lain, seperti Alex, amat menyesal melakukannya.

Hak atas foto
Lesley Roberts

Image caption

Alex menonton paus berama Ibunya sebagai kado ulang tahun ke-21

Alex mencari pertolongan medis lainnya menyusul sunat yang dijalaninya, termasuk juga bantuan psikologis, namun ia tidak pernah membagikan masalahnya tersebut kepada keluarga maupun teman-temannya.

“Saya bersamanya selama dua tahun itu dan saya rasa saya berbohong bila mengatakan bahwa saya tidak merasa ada yang salah,” ujar Lesley.

“Saya mengatakan kepadanya ‘Ada yang sedang kamu pikirkan? Apa kamu baik-baik saja?’ dan dia langsung meyakinkan saya bahwa ia baik-baik saja.”

Lesley, yang pernah menjadi guru, kini berharap bisa mengunjungi sekolah-sekolah dan mengatakan kepada para siswa laki-laki untuk mau membagikan masalah mereka, meskipun itu adalah hal-hal yang sangat pribadi.

“Saya pikir kita semua tahu kalau laki-laki cenderung tidak suka membicarakan masalah mereka seperti halnya anak-anak perempuan, tetapi saya rasa sunat itu memang topik yang sangat tabu,” ujarnya.

“Alex tertutup. Ia tidak akan mengatakan ‘saya punya kulup yang ketat dan ini sangat sakit’. Dan ia tidak melakukannya. Dan saya pun (jadi) tidak tahu.”

Hanya sepekan setelah Alex meninggal, seorang teman menceritakan kepada Lesley tentang prosedur sunat yang dijalaninya.

“Ia mengatakan kepada saya bahwa ia tidak biasa mengungkit masalah sunat, tetapi ia berkata bahwa ia menjalani sunat setelah dewasa, sekitar 10 tahun lalu, dan ia merasakan sakit setiap harinya,” ujar Lesley. “Rasanya ini topik yang lebih biasa daripada yang kamu bayangkan.”

Image caption

Konsultan dokter bedah urologi Trevor Dorkin, yang merupakan anggota Asosiasi Ahli Bedah Urologi Inggris, mewanti-wanti pasiennya akan risiko disunat sebelum menjalani prosedur tersebut

Dorkin mengatakan bahwa masalah serius setelah sunat adalah sesuatu yang jarang terjadi, tapi bukan berarti tidak pernah terjadi.

“Anda pasti pernah mendengar cerita mengerikan ketika sunat dilakukan dengan sembrono dan mengakibatkan kerusakan pada kepala penisnya sendiri,” ujarnya.

Terkadang terlalu banyak kulit yang diangkat dan hal ini mengakibatkan apa yang disebut “penyembunyian” atau pemendekan penis, di mana ia ditarik ke bagian badan batangnya.

“Dokter bedah pada akhirnya adalah manusia juga dan ada kemungkinan terjadinya kesalahan manusia atau teknis saat proses operasi,” ujarnya.

“Salah satu mentor saya mengatakan bahwa setiap kasus itu rumit, dan itu harus menjadi pendekatan Anda dalam mengoperasi. Anda tidak boleh meremehkan prosedur operasi.”

Ada kasus-kasus di mana anak-anak dan pria dewasa sekarat setelah disunat.

Seorang bocah berusia empat minggu, Goodluck Caubergs, meninggal akibat kehabisan darah setelah seorang perawat menyunatnya di rumahnya di Manchester, sementara seorang bayi berumur satu bulan bernama Angelo Ofori-Mintah meninggal akibat kehabisan darah setelah disunat.

Sejak tahun 1995, setidaknya 1.100 anak laki-laki meninggal di Afrika Selatan setelah ritual sunat. Beberapa penis putus setelah terinfeksi dan membusuk, sedangkan yang lainnya diamputasi.

Di Kanada, di mana Alex tinggal, seorang bayi yang baru lahir, Ryan Heydari, meninggal karena kehabisan darah setelah disunat seorang dokter di Ontario.

Baru-baru ini terdengar kabar di mana dua orang bayi sekarat hanya terpisah beberapa minggu setelah masing-masing dari mereka menjalani prosedur sunat di rumah mereka di Italia, dan seorang bocah berusia dua tahun menghembuskan napas terkahir setelah disunat di pusat migran di Italia.

Hak atas foto
Lesley Roberts

Image caption

Sebagai seorang anak, Alex adalah pribadi yang “tampan, mudah bergaul, dan menyayangi adiknya, Thomas”

“Saya tidak berhak untuk mengatakan bahwa sunat itu selalu berujung buruk, karena memang tidak demikian,” ujar Lesley.

“Hal itu tentu hanya pada kasus anak saya saja dan saya rasa kita perlu mencari tahu lebih lanjut. Kita perlu mencari tahu risikonya, hal buruk apa yang bisa terjadi, dan kita harus sadar akan itu semua.”

Jika sunat adalah suatu keharusan, menurut Dorkin, penting untuk memberitahukan kepada para pasien apa saja komplikasi yang mungkin terjadi.

“Khususnya ketika Anda melakukan operasi terhadap seorang pria yang sudah berada di usia akhir remaja atau di awal kedewasaan, kulup penis adalah area yang sangat sensitif dan fungsi seksualnya itu penting, maka Anda harus menjelaskan risikonya kepada mereka,” ujarnya.

Hak atas foto
Lesley Roberts

Image caption

Alex meminta sang Ibu membagikan kisahnya setelah ia tiada

“Alex mengatakan bahwa ia tidak mengetahui risiko-risikonya,” ujar Lesley. “Jika ia tahu, saya yakin ia tidak akan menjalani operasi tersebut.

“Alex tidak sendirian. Saya sekarang tahu dia bukan satu-satunya yang mengalami hal itu. Dan itu bukanlah sesuatu yang benar.”

Lembaga amal asal Inggris, 15 Square, yang mencoba mengedukasi masyarakat tentang sunat, mengatakan bahwa Alex bukan satu-satunya pria yang bunuh diri setelah disunat.

“Hal ini lebih sering terjadi dari yang Anda sadari,” ungkap pimpinan 15 Square David Smith.

Tidak ada angka statistik tentang jumlah pria yang bunuh diri setelah disunat. Alex meninggal lebih dari setahun yang lalu namun kisahnya belum pernah terdengar hingga kini. Sebuah pemeriksaan dilakukan di Inggris terhadap kasus kematiannya namun tidak ada media yang memberitakannya.

Lesley, yang biasanya bersifat tertutup seperti sang anak, hanya mau membagikan kisah Alex karena ini merupakan keinginan terakhirnya.

“Jika informasi ini bisa memberi manfaat kepada orang lain, maka kisah ini telah memenuhi tujuannya,” tulis Alex.

“Saya merasa tidak nyaman mengungkit masalah ini ketika saya punya pilihan, maka jika kisah saya bisa meningkatkan kesadaran untuk mematahkan tabu di tengah masyarakat tentang kesehatan pria, maka saya bahagia telah mengungkapkan hal ini.”

“Alex berkata dalam suratnya ‘Kita berada di atas bahu mereka yang telah mendahului kita’,” tutur Lesley.

“Ini adalah hal terakhir yang saya lakukan demi anak saya yang paling berharga.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *